Foto Palung

Untuk sinta Nisfuanna

Limbangan, 20 Mei 2007

Assalammualaikum,

Kaifa ha’luka, Sin?

Malam ini saya tidak sedang dalam suasana hati yang enak. barangkali masalah siklus bulanan yang bikin

mood garing. Atau malah suasana rumah yang desperado, hehe, bikin saya enggan menulis apalagi membaca apa saja. Itu jelek! Mohon jangan ditiru! Desperate-nya berkaitan dengan penyakit lama yang kambuh kala sikon tak kondusif.

Ya, ginilah, Sin. Saya tak disiplin dalam menerapkan pola keseharian yang profesional jika ingin melakoni dunia menulis secara total sebagai sumber mata pencaharian dan bukan untuk iseng-isengan.

Tinggal di tempat yang jauh dari akses mobilitas itu ternyata ada efeknya. Dibilang malas bukan, dibilang enggan atau tak bisa juga bukan, dibilang tak mau kurang tepat. Jadi apa, dong? Cuma masalah psikologi saja, bagi yang terbiasa dengan tantangan dan rangsangan ditambah fasilitas sarana yang memadai (warnet dan rental komputer), rasanya kok garing banget.

Teman banyak, apalagi jika ada yang membutuhkan bantuan saya, cuma susah banget buat ketemuan. Korespondensi lewat pos saja bisanya, meski saya suka angin-anginan untuk segera membalasnya (ada sisi gelap dalam diri untuk gone with the wind — lalu bersama angin — pada kawan dekat atau siapa saja).

Saya tak tahu mengapa Sinta Nisfuanna memilih untuk menghubingi saya. Tentu ada banyak nama dan cerita yang telah Sinta jelajahi. Atau semua murni karena pilihan berdasarkan keyakinan? Atau malah saran seseorang yang saya kenal juga? Wallahu a’lam.

Baiklah, surat perkenalan Sinta yang singkat akan saya tanggapi secara panjang lebar plus bantaian atas “bahan baku” yang telah disodorkan.

Bagaimanapun, Sinta telah menghubungi saya via milis BCN, dan maaf saya tak membalas surel (surat elektronik) tersebut sebab sikonnya tak mendukung, lebih baik “mengobrol” dulu lewat chat di YM! sebab waktu itu kebetulan ikon ID Sinta menyala kuning tanda sedang online.

Syukron untuk surelnya.

Afwan untuk kesan tak ramah yang barangkali telah saya timbulkan karena menjawabnya tak asyik dan banyak jedanya. Biasa, sedang sibuk kirim naskah ke media cetak plus chat juga dengan Ivy Erli Desca dan Eria Widiarti. Waktu saya terbatas, Non. Afwan, ya? Berinternetnya harus “turun gunung” ke Bandung, itu pun jarang. Sekalian menemani ibu ambil uang pensiun. Yah, sebulan sekali. L

Cuma khawatir Sinta berpikir saya dingin banget kayak penguin, hehe…. Penguinnya kelimpungan, Non, karena tinggal di kutub kampung. L

Okay, mood saya membaik namun harus jeda iklan eh salat Isya dulu. Wassalam….

• Tentang Menulis dan Jadi penulis •

Apakah Sama? Menulis itu hal yang mudah, bisa dilakukan siapa saja, di mana pun juga? Namun ada seni pembeda antara “menulis biasa yang sekadar jadi” dengan “jadi penulis”. Bisakah Sinta rasakan perbedaan itu?

Untuk mahir sebagai penulis yang telah jadi tentu butuh proses, adakalanya proses tersebut panjang dan melingkar. Tidak semudah yang diperkirakan. Berjuang adalah jalan yang harus dipertahankan. Menjaga agar api itu tidak redup atau padam. Namun perjuangan, sekeras dan segigih apa pun, akan sia-sia jika tidak ada yang membimbing atau sekadar menunjukkan pintu-pintu untuk kita ketuk dan masuki.

Ya, pada dasarnya untuk menjadi penulis itu harus terbuka dan memperluas cakrawala pengetahuan plus pergaulan. Bukankah bergaul itu mutlak perlu bagi kita yang, seasosial apa pun, merasa sebagai manusia dan belum ingin “pensiun dini”, hehe….

Bagi saya, komunitas penulis itu penting asal jangan klik-klikan. Setidaknya kita tak alone lonely time so much, yah kayak lirik lagu country yang lupa judulnya apa.

Sinta gabung dengan komunitas penulis mana?

Namun, Sin, kadang kita butuh sedikit “sentuhan pribadi” dari seseorang yang tepercaya untuk berbagi ilmu. Seseorang yang mau peduli dan meluangkan segenap kemampuannya dalam hal waktu, tenaga, uang, dan pikiran.

Saya siap membantu semampunya sesuai kapasitas yang dimiliki. Namun siapkah Sinta membuat semacam komitmen bahwa “berbagi” itu hal yang berharga dan tak akan menyia-nyiakannya? Bahwa, apa pun yang saya bagi siap diserap Sinta dengan baik? Mau sabar dengan karakter sometimes wanna be to gone with the wind? Tak suudzan pada kerumitan karakter saya? Tidak begitu saja menelan omongan jelek orang lain tentang saya, sebab ada sisi yang tak saya bagi?

Maaf, Sin, pertemuan kita bukanlah lewat cara standar yang “normal”. Kita belum pernah bertemu secara langsung jadi tak tahu bagaimana keseluruhan dalam hal kepribadian. Hanya karena Sinta perempuanlah yang membuat saya mau menanggapi surelmu. Memberi alamat dan jalan untuk diskusi secara korespondensi lewat pos. Sekarang saya harus pilih-pilih orang untuk dijadikan kawan. Sudah cukup lelah saya dengan formalitas perkawanan yang ternyata semu.

Bisakah Sinta memahami hal demikian?

Ini bukan soal ikatan, Sinta boleh mengakhiri kapan pun jika sudah merasa cukup atau tak bermanfaat. Namun yang saya butuhkan adalah kesungguhan.Kesungguhan untuk belajar dan mengajar saya.

Saya hanya membutuhkan separuh saja dari segenap kesepenuhan yang Sinta miliki. Ini soal menulis dan menjadi penulis, Non.

Belajarlah untuk membacacermati!

Selamat memasuki dimensi baru dari pertukaran pemikiran. Semoga bermanfaat dan tak tersesat. Amin.

• Dasar untuk Melangkah •

Sudah lama berkutat dalam dunia menulisnya? Kalau sudah, tentu ada dasar-dasar yang telah Sinta kuasai atau minimal tahulah.

Apakah itu? Bahasa, Non.

Menulis berkaitan dengan penguasaan bahasa yang baik (dan benar, hehe). Kuncinya pahami dulu gramatika alias tata bahasa. Jangan remehkan ilmu dasar yang sangat mendasar itu. Sebab, bagi pemula, tak begitu saja langsung mahir menari dalam irama kata-kata. Pasti ada kagoknya. Namun jika telah belajar dasar tersebut maka akan terbiasa dalam mengolah alur pikiran dan perasaan; itu berkaitan dengan pembiasaan atas rasa bahasa yang secara otomatis telah terstruktur mengalir begitu saja bahkan sampai tahap efek ketidaksadaran.

Saya banyak menulis “bimbingan privat” untuk siapa saja. Sebagian besar tersebar di berbagai milis. Isinya mengenai bahasan suatu karya secara panjang lebar dan mendetail — kadang juga malah melantur pada hal-hal lain.

Kebanyakan yang saya soroti adalah kelemahan dasar berupa gramatika. Sebetulnya ilmu bahasa itu asyik, lho. Akan tetapi, mengapa bagi penulis hal tersebut kerap disepelekan?

Kalau punya waktu luang, juga uang, silakan Sinta cari dan telusuri di beberapa milis yang saya ikuti (alamat milisnya ‘kan ikut tertera dalam setiap peruntukan posting e-mail/surel). Buka saja halaman muka milisnya di yahoogroups, lalu ketik nama lengkap sayadi kolom/ruang search/cari, mudah-mudahan masih ada dan tak dihapus owner atau moderator.

Yah, sekadar memperkaya bahan bagi penguasaan dasar. Rencananya, insya Allah, akan saya himpun semuaceceran tersebut ke dalam blog pribadi, jika ada dana untuk turun gunung ke Bandung lagi. Soalnya sayang juga tuh semua hasil “lanturan” tersebut cuma tersimpan begitu saja, tak “mengglobal”, hehe….

Sinta sudah punya blog?

Okay, hal pertama yang harus Sinta miliki adalah buku Dasar Tata Bahasa Indonesia. Harganya murah, kok. Saya pernah punya dan harganya cuma Rp3500 saja, lalu dikasihkan pada teman lain.

Hal kedua? KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, sayang harganya masih mahal. Sekira 200.000-an rupiah. Kalau belum punya nabung dengan tekun, ya. Saya sendiri punya namun hasil hadiah dari Pak T.D. Asmadi dari Kompas yang Bos FBMM (Forum Bahasa Media Massa).

Ketiga? Coba bergabung di milis guyubbahasa FBMM. Itu milis para “bahasawan” alias pencinta bahasa Indonesia. Di sana Sinta bisa belajar bahasa Indonesia berikut segala dinamikanya.

Keempat? Jangan malas atau alasan lainnya hingga angin-anginan menekuni dunia menulis. sayang tuh jika Sinta yang dibekali segenap potensi diri (plus sarana yang memadai) malah menyia-nyiakan hal yang mesti disyukuri. Lihat sekitar, Non, ada banyak insan yang tak beruntung.

Kelima? Jadikan menulis sebagai ajang pembiasaan. Tulis apa saja setiap harinya meski cuma sebaris kalimat saja. Kalau tak mood menulis? Yah, jelajah imajinasi lewat bacaan. Kalau bacaannya dirasa garing karena merupakan koleksi lama? Cari alternatif lain! Gini-gini saya usahakan beli koran Minggu Kompas dan Republika jika turun gunung ke kota kecamatan untuk belanjadi pasar demi warung kecil-kecilan milik ibu. Biar ada penyegaran, gitu. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi tulisan kita.

Keenam? Perbanyak baca dan tak fokus pada bacaan tertentu saja. Kalau bisa bikin target baca setiap hari. Catat semua kesan dalam buku harian, kesan terhadap suatu bacaan, siapa tahu kelak bisa mendorong kita untuk menjadi resensator atau kritikus sastra (yah, semacam itulah).

Omong-omong soal buku harian, percaya ‘nggak, saya ini paling malas menulis ke dalam buku harian. Tak tahu mengapa demikian. Barangkali berkaitan dengan trauma juga karena ada di suatu masa silam saya pernah membakar semua buku harian plus surat-surat dari teman. Agenda saya tak diisi lagi, lho, apalagi binder kecil. Kertas ini mestinya untuk menjadi pengisi binder, eh malah dipakai menulis surat. Sayang banyak peristiwa yang tak terabadikan untuk menjadi bahan muhasabah. Jangan-jangan saya tertutup pada diri sendiri juga, Sin. Jangan ditiru, ya? Mumpung belum punya trauma maka tulislah setiap titik terkecil peristiwa kehidupan sehari-hari yang Sinta rasakan ke dalam buku harian.

Ketujuh? Bergaul dengan sesama  pencinta dunia tulis agar tak merasa jalan sendiri. Di Malang ada FLP (Forum Lingkar Pena) juga ‘kan, atau yang sejenisnya?

Kedelapan? Never give up! Yah, jangan menyerah. Setiap jalan pasti ada aralnya. Namun setiap aral pasti ada jalannya.

Kesembilan? Berdoa, bahwa ikhtiar kita karena-Nya juga.

Kesepuluh? Dan seterusnya, dan sebagainya; demikianlah selalu ada hal-hal baru yang akan Sinta temui. Semoga itu mendewasakanmu dalam soul searching yang Sinta pilih.

Demikianlah sahibul nasihat itu saya cukupkan dulu. Ada jeda, harus menimba air di sumur tetangga, malam-malam jelang Isya. Saya cuma bisa menulis malam karena butuh ketenangan. Aktivitas siang terkuras untuk hal-hal domestik kerumahtanggaan (plus jaga warung), ditambah lagi menjemur padi. J

Senin, 21 Mei 2007

***

Selasa, 22 Mei 2007

• Bersama “Doa untuk Saudara” •

Halo Sin, kita bahas satu demi satu bagian cerpenmu secara mendetail, ya? Banyak banget kata dan kalimat yang harus dicorat-coret karena dirasa kurang pas dari segi ekonomi kata dan rasa bahasa.

Saya sertakan naskah cerpenmu untuk dikembalikan. Eh, kurang tepat. Saya kembalikannaskah cerpenmu untuk ditelaah ulang, hehe. Kayak Redaktur saja, main balikin naskah.

Banyak banget juga, Sin. Masih kagok tuh menyusun ceritanya, ya? Terpaksa saya tega main corat-coret dan mengganti beberapa bagian sebagai semacam alternatif dari sekian kemungkinan. Tolong telaah.

Halaman satu

  • Tolong beri format drop cap untuk fonem “W” yang merupakan huruf pembuka dari kata “walaupun”.
  • Sin, saya pernah baca tulisan Pak J.S. Badudu tentang ekonomi kata (atau ekonomi bahasa). Itu berkaitan dengan menghemat kata agar susunan kalimatnya tak panjang apalagi bertele-tele. Kalimat: “Walaupun matahari sudah meninggi dan memancarkan sinarnya, tapi udara tetap terasa dingin.
  • Sin, kata “walaupun” menurut KBBI: merupakan partikel (kelas kata yang meliputi kata depan, kata sambung, kata seru, kata sandang, ucapan salam) dari kata “walau”. Dan “walau” sendiri menurut KBBI: p (partikel) 1. dan jika: — harus menembus bumi, tetap akan Kanda jalani; 2. kendati; meski: — hujan lebat, ia tetap datang ke rumah pacarnya.
  • Ada kaitannya mengapa saya perlu menggarisbawahi kata “tapi” juga. Tapi -> tetapi -> p (partikel) kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal bertentangan atau tidak selaras: orang itu kaya, — kikir; rumah ini besar, — sudah rusak; akan –, penghubung antarkalimat atau antarparagraf untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras: akan –, masalahnya tidak semudah itu.
  • Karena itu, Sin, jika kata “walaupun” dibenturkan dengan kata “tapi” seperti yang telah Sinta tulis, maka akan dirasa janggal. Buang saja “tapi”-nya, ya?

Maka:

“Walaupun matahari sudah meninggi dan sinarnya memancar ke bumi, udara tetap terasa dingin; khas Malang, kota yang dilingkungi jajaran pegunungan. Mungkin dikarenakan saat ini sedang musim hujan, hawa dingin yang membuatku lebih malas untuk bersentuhan dengan air. Sentuhan terakhirku hanya saat aku wudu untuk menunaikan salat Subuh. Itu juga sambil menggigil.”

  • Bagaimana, Sin? Cuma satu paragraf. Ada yang saya kurangi dan tambahi sesuai rasa bahasa. Intinya, ekonomi kata itu bukan berarti mengabaikan estetika. Cuma”membuang” hal yang dirasa tak perlu, boleh juga ditambahi hal baru.
  • Selain itu, akan kita diskusikan nanti. Saya harus fokus pada kesalahan per paragraf.
  • Imanginasi -> imajinasi.
  • Rrrrrrrr…, getar HP-ku menyala, tanda ada SMS masuk.

Karena: pakai titik tiga lalu satu koma, HP akronim dari Handphone, maka fonemnya harus kapital, begitu pun dengan SMS.

  • Cermati diksi (pilihan kata) mana yang harus diketik miring (italic) jika berasal dari bahasa asing seperti miscall.
  • Jangan sekali-kali menyingkat kata dalam tulisan untuk dikonsumsi umum. Itu cerpen bukan SMS, Non.
  • Mengapa Sinta melewatkan tanda baca semacam titik di akhir dialog? Begitu pun dengan koma?
  • Tanda baca titik digunakan sebagai penutup, sedang koma jika masih ada lagi hal yang diungkapkan. Apakah sinta ragu atau tidak tahu akan tanda baca? Coba cermati setiap tulisan yang dirasa apik dalam gramatika seperti koran Kompas karena di sana ada rekan guyuber juga.
  • Penggunaan angka ½ untuk setengah itu ada aturannya. ½ bisa digunakan dalam hal penjumlahan, namun sebaiknya jika dalam bahasa percakapan atau hal lainnya yang tak berkaitan dengan kalkulasi, maka cukup ditulis “setengah” saja jangan “½”.
  • Soal “teman” dan “temen” sebaiknya ditulis secara konsisten dalam tulisan. Jangan “teman” lalu kemudian malah “temen”. Menurut saya, enaknya “teman” aja, deh. J
  • …dia “mendapat” vonis “mempunyai” penyakit….

Sin, mendapat = men-dapat, mempunyai = mem-punya-i; itu kata dasar “dapat” dan “punya”. Jadi, menurut KBBI: dapat = 1. adverba (kata yang menjelaskan verba [kata kerja], adjektiva [kata yang menjelaskan nomina/kata benda atau pronomina/kelas kata yang meliputi kata ganti, tunjuk, dan tanya], adverbia lain, atau kalimat) mampu; sanggup; bisa; boleh; mungkin: serangan musuh tidak — ditahan; isi hatinya tidak — kita ketahui.

Aduh pusing, kok jadi ruwet banget detailnya. Sudahlah, menurut saya, mendapat tidak bisa begitu saja dipadankan dengan mempunyai dalam satu baris kalimat. Ganti saja dengan kalimat lain.

Halaman dua

  • Kata sapaan “Selamat Pagi” sebaiknya fonem P dari “pagi” tak usah kapital; “teman-teman” merupakan bentuk subjek yang lebih dari satu orang, nah, “t”-nya kapital, ya? Sebab merupakan kalimat langsung sapaan.
  • Kami = kata ganti orang pertama dan ketiga jamak (saya dan yang lainnya)

Kita = kata ganti orang pertama dan kedua jamak (saya dan kamu).

KBBI-> Kami= pronomina 1. yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca; 2. yang berbicara (digunakan oleh orang besar, misal raja); yang menulis (digunakan oleh penulis).

Kita= pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara.

Maka, soal kami dan kita tentu berbeda. Jangan sampai yang Sinta maksudkan dengan “kami” malah ditulis “kita”. Perbaiki itu!

  • Telepon = dari kata Inggris “telephone”, maka bakukan jadi “telefon”.
  • Pisahkan kata pun dari hubungipun menjadi hubungi pun.

Pun = juga, partikel pun itu ada yang disatukan dengan kata dasar yang menyertainya, ada juga yang dipisahkan. Untuk jelasnya baca buku tata bahasa, ya Sin. Please….

  • Belajar mencermati mana yang harus diberi tanda baca petik dua (“) dan satu (‘).

Halaman tiga

  • Tau -> tahu.
  • Bakukan kata “sekedar” menjadi “sekadar”, (e-a).
  • Belajar untuk mengganti paragraf pada tempat yang tepat.
  • Sin, ada titik yang cukup ditulis 3X saja, ada juga yang harus 4X jika berkaitan dengan akhiran. (Ada juga yang 3X titik lalu ditambah 1X koma […,] jika ada kalimat sambungan dalam satu baris.
  • Mengapa harus “Di depan sudah ada 4 sepeda motor yang sudah penuh dengan penumpang”? Tolong ganti dengan kalimat lain untuk yang telah saya garisbawahi.
  • Penulisan Rumah Sakit sebaiknya dengan huruf kecil, ya?
  • Kalau “RS Saiful Anwar” sudah tepat penulisannya karena mengacu pada objek tertentu.

Halaman empat

  • Yah, periksa deh coretannya.

Halaman lima

  • nerima -> bakukan jadi “terima”.
  • Penulisan insyaAllah harus dipisah jadi insya Allah dan diketik miring.

Halaman enam sampai delapan

  • Wah, capai, Non. Kertasnya sudah dicorat-coret, barangkali ada yang Sinta tak mengerti mengapa dan butuh alasan. Alasannya, efisiensi dan ketepatan kata dalam susunan kalimat. Seperti “disana” yang ditulis terpisah menjadi “di sana” karena kata “di” merupakan kata depan (awalan) yang merujuk pada tempat.

Mencermati keseluruhan cerita dalam “Doa untuk Saudara”, terasa cukup baik dalam ide namun masih gagap penyajiannya. Kegagapan itu berasal dari ketidaktepatan pilihan kata dan kalimat. Ada hal-hal yang dirasa tak lepas. Kesannya kaku dalam narasi.

Tolong perbaiki hal-hal yang telah saya kritik dan garisbawahi, kalau bisa ganti kalimatnya agae enak dibaca dan mengalir. Masih ada potensi untuk diperjuangkan menembus media massa, namun dari segi penghayatan terasa Sinta mengambil jarak sehingga karakter tokohnya kurang bergetar. Narasinya cenderung dalam nada paparan. Ketika orang pertama tunggal (saya/aku-tokoh) bercerita tentang sahabatnya yang sakit berikut segala sepak terjangnya dalam memperjuangkan cita-cita, cerita tersebut berjalan datar. Tak ada unsur heboh.

Penting saya tekankan kekuatan aspek emosi. Bukan berarti emosi tersebut harus jatuh dalam nada sentimental atau melankolis. Emosi itu berupa “ruh”. Ya, ruh tersebut tidak dapat saya tangkap.

Saya ajak Sinta bermain kata secara lincah dan leluasa, menjelajahi ruang-ruang kemungkinan dalam bahasa demi menghidupkan imajinasi pembaca. Jangan terpaku pada cerpen-cerpen yang dimuat Annida saja. Ada banyak cerpen lain yang bagus untuk Sinta apresiasi. Cerpen dari penulis sekuler sekalipun. Bagaimana?

Sin, jebakan dalam sastra Islami adalah sastra yang cenderung mendakwahi namun dalam nada datar dan monoton. Padahal tidak demikian halnya. Sastra Islami itu ada, baik secara pelabelan dalam cakupan sempit maupun islami yang mengacu pada kehidupan universal tentang kebaikan.

Kita boleh memilih yang mana? Sastra sebagai media dakwah namun hitam putih dan “radikal”, atau sesuatu yang dianggap sekuler?

Sin, saya memdapatkan hal-hal mengejutkan dari media sekuler macam film, misalnya. Ada film barat yang bagus dari segi ide dan narasi dan penyajian. Saya tidak melihat film tersebut berhenti sebagai film tetapi substansinya. Kadang penulis skenarionya menggugat kemapanan pola pikir tertentu. Itu yang bikin saya salut. Kalau mereka yang sekuler bisa maju dan berani serta cerdas membuat terobosan, mengapa kita tidak? (Jawab: kayak iklan rokok aja, “Tanya kenapa!”, hehe.,,,)

Ada film jenis psycho-thriller yang lupa judulnya apa. Tentang seorang pengacara yang kariernya hancur. Ia tidak sadar dirinya terlibat dalam suatu permainan dari seorang maniak pembunuh yang korbannya kebanyakan pengacara culas. Ia telah digiring dalam situasi mana untuk menunjukkan watak aslinya karena termakan keserakahan dan hasrat akan uang dan popularitas; menerbitkan novel yang bukan karyanya! Novel itu masuk kategori best seller. Banggakah sang pengacara itu? Tidak, nuraninya terusik, permainan yang ia telan telah memerangkapnya. Menjadi korban atau pameran? Dibunuh atau membunuh?

Dalam film itu sarat elemen kejutan. Ada suspens ketikacerita digiring agar mampu membuat penasaran penonton. Tidak melulu fisik tetapi kerja otak yang cerdik. Ceritanya tak datar, Sin, senantiasa bergerak. Sampai pada titik terang akan sebab-akibat. Pokoknya ada pesan moral di sana namun tak menggurui.

Kamu, Sin, dalam “Doa untuk Saudara” memaparkan segi-segi baik dan positif tentang manusia. Aku-tokoh sebagai pengamat/narator pasif, Ludi sebagai sosok baik namun “dilemahkan” oleh penyakit, sampai Aji yang berkebalikan dengan Ludi. Bisakah mengubah jalan cerita itu tiadak datar?

Sulit, Sin, jika kita berpikir sulit. Ada keengganan untuk mengubah hal yang dirasa baik menurut kita. Namun jika Sinta ingin maju, buatlah cerita tentang kalian dalam versi lain. Tentunya versi yang lebih baik.

Kembali pada cerpen ini, pembuka oke – alur maju dan mundurnya oke – kedodoran dalam penyajian narasi, lebih tepatnya rasa bahasa dan gramatika – efek penutup yang menggantung ada elemen kejutan, itu sudah boleh.

Jadi,a asah terus rasa bahasamu, Non. Cermati pelajaran gramatika. Jangan cepat berpuas diri.

Sekian dulu perjumpaan kita malam ini. Wassalam.

23-24 Mei 2007

Ps.

Sudah beberapa hari ini saya futur. Futurberat. Tidur saja tak nyenyak. Kadang terjaga dengan perasaan hampa. Biasanya pukul 3 dini hari. Adakah seseorang di luar sana yang mendoakan saya dalam tahajudnya? Entahlah. Saya sedang “perang” dengan diri sendiri.

Maukah mendoakan saya agar tenteram dan berdamai? Suasana hati demikian amat buruk bagi fokus saya. Seolah ada sesuatu yang direnggut dan tak bisa kembali.

Maaf, suratmu saya terima hari Kamis tanggal 16 Mei dan menulis jawaban pakai acara dicicil segala. Tak bisa seketika. Ada surat dari Dian Hartati yang belum saya selesaikan lanjutannya. Saya harus membahas puisi-puisi dalam antologi bersama Herbarium. Ih, ngotot amat harus mikirnya.

• Jumat, 25 Mei 2007

Tentang kisah sejati “Al Quran Cintaku”, kalau tidak salah saya kirim pada bulan Januari 2007. Sempat berprasangka naskah itu akan gagal muat seperti yang sudah-sudah, eh, alhamdulillah malah dimuat Annida edisi Februari-Maret 2007.

Sudah berbulan-bulan saya tidak beli Annida baru lagi, pas baca itu bulan Maret ternyata kisahya nongol juga. Aduh, Sin, proses itu tidak mudah, lho. Bagaimana caranya agar bisa lolos seleksi dari sekian naskah bagus, itu selalu menghantui saya. Terobsesi agar bisa lebih baik dari yang sudah-sudah. Jujur, saya kesulitan mengikuti kaidah menulis secara Islami sesuai acuan yang telah dicontohkan Annida, misalnya.

Dua naskah lain, “Pelayaran Tristan” untuk epik dan “Apa Makna Maut, Gabriel?” untuk cerpen rasanya telah gagal memenuhi standar yang Annida cari. Makanya sempat tak percaya juga waktu kisah itu dimuat Nida. J

Sin, soal tak laik muat apalagi tak menang lomba itu hal lumrah dialami setiap penulis. Anggap saja ujian, Non, dan belum lulus karenapersiapannya tak oke. Untuk lomba, cerpen “Doa untuk Saudara” itu kayaknya terlalu biasa dari segi kekuatan cerita. Juri butuh yang lebih demi menentukan pemenang. Teruslah berkarya agar suatu saat karya Sinta menemu titik matang. Siapa tahu layak dibanggakan.

Oke, acungin dua jempol tangan (bukan kaki, Non, kecuali kegatelan, hehe…). Bahwa Sinta siap bertarung memasuki pasar penulisan. Sip!

Baik, mari kita telaah cerpen “Kerinduanku”.

Napa Sinta memilih judul itu? Tak adakah judul lain yang lebih “menyetrum” sebagai semacam pilihan atau sudah yakin dengan judul singkat dan sederhana itu?

Seorang Redaktur peenah menulis dalam ruang ulasan cerpen (Tendy K. Somantri, Galamedia, tahun 2000-2001), bahwa judul adalah pintu gerbang yang menuntun pembaca untuk memasuki ruang imajinasi dalam cerita rekaan. Nah, pemilihan judul yang kurang tepat bisa berdampak jelek, tak mengundang hasrat pembaca. Mereka merasa biasa-biasa saja atau tak menganggap istimewa pada judul yang terbaca. Anggap judul itu semacam label bagi bakery.

Adakalanya judul yang unik dan menggemparkan lebih mengundang meski pada akhirnya cerita rekaan tersebut datar-datar saja. Bagi saya, penting untuk mengeksplorasi judul. Sesuatu yang bikin penasaran orang untuk memasuki gerbang cerita.

Judul boleh simpel asal mengena, boleh juga panjang dan tak biasa; namun carilah judul yang pas dengan isi cerita rekaannya.

Jadi, pertimbangkan sekali lagi untuk judul yang telah atau akan Sinta pilih.

Soal kebiasaan dalam menulis, jadilah diri sendiri, Sin. Jika gaya menulis Sinta lebih pada cerita humor ketimbang “serius”, coba eksplorasi hal demikian. Entah mau humor Lupus-nya Hilman (di novel Interview with Nyamuk, Hilman menulis edisi humor Lupus dalam kategori humor hitam, entah disadari atau tidak, gaya humor Hilman berbeda dengan serial Lupus sebelumnya), atau Forrest Gump-nya Winston Groom, atau siapa saja tokoh penulis humor yang Sinta sukai.

Joni Ariadinata dalam ruang “Galeri” Annida pernah mengeluhkan betapa keringnya karya yang bernuansa humor, seolah penulis Indonesia pada seeius semua, hehe….

Mas Joni ada benarnya, tetapi tidak semua orang memiliki selera humor yang baik sekaligus cerdas dan kritis; kalaupun ada jarang yang bisa menuangkannya. Entah mengapa.

Menjadi penulis humor itu bukan kerja main-main. Ada sih penulis yang mampu bertutur dengan gaya humor dan membuat kita ketawa ngakak, namun sayangnya cerita tersebut tak lucu lagi jika dibaca ulang. Nuansa humornya hilang karena membosankan.

Gitulah, Sin, kita tak selalu suka pada humor garing. Berbeda dengan cerita serius yang tak kehilangan nuansa seriusnya karena enak dibaca sehingga akan tetap dikenang dan dibaca ulang.

Mengapa demikian, humor versus serius? Saya bukan psikolog dan kurang punya penjelasan secara bahasa. Yang saya tahu kita selalu butuh hal-hal baru, gitu terus.

Oke, tulislah cerita dalam versi bagaimana saja. Mau humor atau serius atau apalah. Toh, tertawa belum dilarang di muka bumi, hehe…. J

Sekian dulu perjumpaan malam ini.

• Sabtu, 26 Mei 2007

Sehabis Asar.

Tanggal 14 hari Kamis itu, jam 8 pagi, ibu masuk kamar dan menyerahkan amplop besar. Sayang tak berperangko dan ujung talinya copot, entah ada yang mengusilinya. Dari siapa, tuh? Ternyata dari Sinta. Kok cepat amat, hehe….

Eh, Sinta asal Malang, ya? Maaf saya tak banyak tanya soala biodata Sinta. Tak bisa lama di warnetnya. Dan Kamis itu saya menemani ibu ke Bandung untuk ambil uang rapel pensiun. Baca cerpennya di sado dan angkot, lho. Di kereta tak melanjutkan bacaan. Lagi pusing belum sarapan. Sempat ke warnet, cuma kompi (komputernya) bermasalah. Agak lamban dan beberapa kali saya gagal kirim naskah. Entah mengapa. Sayang Sinta waktu Kamis sore itu tak OL.

Oke, kembali pada soal biodata. Sudah lama menulisnya? Napa menulis? Betulkah ingin menjadi penulis? Ada yang bimbing? Di Malang dengan siapa? Dah lama baca Annida? Sekalian dah bisa diskusiin isi Nida, ya, hehe….

Sin, mumpung masih “segar” dalam segi usia dan pengalaman, sebaiknya jangan takut mencari dengan berimprovisasi. Ini masalah pembentukan karakter dalam dunia kepenulisan. Asah itu, Sin.

Mengambil suatu cerita sebagai ide boleh juga. Salut, tuh, soalnya Sinta bisa mengambil celah dari cerita yang telah dibaca untuk dikembangkan sesuai imajinasi secara persona.

Soal “Kerinduanku”, ya, penjiwaan Ilham yang tunarungu sudah boleh. Pengamatan Sinta tentang itu tak asal. Adakah insan tunarungu lain yang telah Sinta kenal? Soalnya, Sin, soal Ilham yang tertatih-tatih belajar mengaji Quran itu memang hal wajar. Akan tetapi, ada hal mendasar baginya yang barangkali tak Sinta tahu; ditertawakan anak lain kala mengaji!

Mengatur intonasi suara dan artikulasi itu tidak mudah. Bagi orang normal seolah menjadi lelucon. Lalu apa Ilhamnya tak menemu aral macam saya? Yah, jika lingkungan pengajiannya baik, maka akan selamat dari hinaan. Jika tidak?

Coba beri sedikit sentuhan rumit pada perjalanan hidup Ilham. 4 halaman itu masih dirasa kurang. Kurang padat, lebih tepatnya. Jangan biarkan cerita berjalan datar, berilah sedikit riak. Entah keluarga Ilham, atau sekolahnya, atau teman-teman sepergaulan. Juga, di usia senjanya Ilham menjadi apa dan bagaimana? Ini cuma sekadar saran, Sin.

Oh ya, saya perbaiki bagian gramatikanya. Sinta bisa simak hasilnya. Kalau ada yang kurang jelas, silakan tanya lagi. Mudah-mudahan saya bisa memperjelasnya. Selain itu, jangan sekali-kali memasukkan bentuk tulisan gaya SMS ke dalam cerpen, misalnya.

Menulis Allah dengan 4-J-J itu salah. Allah cukup ditulis “Allah” saja, Sin.

Hampir terlewat, uf, dah Magrib. Jeda dulu. Menulisnya pukul setengah enam tadi, hehe….

• Habis Magriban

Mengajinya cuti dulu. Sinusitis bikin susah bernapas. Cara bicara saya bagi orang normal sudah dianggap “parah”, apalagi ditambah sinus. Sampai di mana kajian Quran Sinta?

Kemarin selesai surat Az Zukhruf (Perhiasan), juz 25. Tinggal baca Ad Dukhan (Kabut). Belajar bahasa Arab? Saya butuh mentor sungguhan! Bisa memberi tahu judul buku apa saja yang harus dipelajari? Tak bisa meloncat-loncat. Itu sama dengan belajar bahasa Inggris. Ada dasar demi penguasaan grammar yang bertahap. Kamus bahasa Arab saya tak memadai. Itu kayak asal kamus. Penyusunnya saja payah dalam pemahaman bahasa Indonesia. Bisa beri tahu saya, apa judul kamus bahasa yang setara dengan KBBI?

Seandainya di Limbangan ada warnet, insya Allah saya bisa lebih leluasa belajar di jagat maya. Sayang Limbangan belum maju, Sin. Pengen kuliah di www.kampussyariah.com, tuh. Ada ‘nggak mata pelajaran, eh mata kuliah bahasa ARAB?

Sinta aktif di rohis atau bisa bahasa Arab juga?

Mengaji itu, Sin, tidak mudah. Apalagi jika hanya separuh hati. Bahasa Arab dalam Al Quran ‘kan beda dengan bahasa Arab biasa. Lebih indah dan halus. Seperti puisi. Allah memang Mahapenyair.

Ironisnya ada teman saya yang dianugerahi “kesempurnaan” panca indra malah tak bisa mengaji Quran sama sekali. Di kota memang biasa. Sinta sendiri punya cerita pribadi tentang Quran?

Oke, bagaimana jika efek getar dalam cerpen “Kerinduanku” diperhebat? Tentang realitas sekitar, pemaknaan Al Quran dan aplikasinya dalam keseharian. Juga renungan Ilham akan makna Al Quran berikut gugatan atas takdir yang tak dikehendakinya. Atau apa sajalah.

Akan tetapi, jangan sampai cerita tersebut jatuh dalam verbalitas yang gamang. Susunlah kerangka cerita yang kuat, baik dari segi penjiwaan sampai penuturan.

Maaf, “Kerinduanku” memang mengharukan, namun kurang kuat ruh ceritanya. Perkuat itu, Sin. Cari setiap titik lemah dari cerita yang telah kita buat dan perbaiki itu.

Intinya, jangan lekas berpuas diri, Non.

Okay, 20 halaman sudah saya tuangkan. Mudah-mudahan mencerahkan (kalau sebaliknya dirasa menggelapkan, jangan segan bertanya biar terang, pokoknya terus terang saja J)

Apa kabar cuaca Malang? Di sini panas, meski lebih dingin Limbangan daripada Bandung. Ah, Malang kota yang pernah ingin saya jelajahi meski entah kapan.

Apa kabar juga Ludi dan Aji? Mereka nyata, Sin? Cerita yang Sinta tulis dari keseharian? Peraslah keseharian itu hingga tinggal inti dan sarinya. Intisari suatu cerita yang lebih dari sekadar cerita.

Teruslah mencari bentuk pematangan diri dalam kepenulisan. Semoga lancar. Amin.

Dan jangan berhenti pada satu bidang, satu media tertentu, atau satu apa pun, kecuali hanya pada satu keyakinan.

Tersenyumlah. Selalu ada cerita untuk kita bagi pada sesama. Cerita yang semoga bermakna.

Wassalam,

Rohyati Sofjan

Menanti Suami

Menanti Suami

Saya tak bisa mengenyahkan mimpi buruk itu. Sudah lama sekali. Apakah arti mimpi, semacam ketakutan alam bawah sadar atau firasat yang mungkin terjadi? Namun mimpi yang satu ini memang sialan! Saya takut jadi kenyataan.

Cerpen Rohyati Sofjan

M

impi saya: mendatangi rumah suami. Ia sedang di teras bersama seorang perempuan cantik dan sedang hamil juga. Saya tidak kenal siapa ia. Bingung dari mana muasalnya. Ia lebih rapi dan berperhiasan, rambutnya lurus sepundak. Memakai baju hamil yang bagus, perawakannya lebih besar daripada saya, pun gundukan perutnya.

Sedang saya? Ampun, lusuh juga. Pakai kaus hijau belel, rambut tergerai sepunggung dan berantakan. Tak memakai riasan apalagi perhiasan. Saya menarik lengan suami agar menjauh dari perempuan itu. Namun tangan mereka malah saling erat berpegangan. Saya berusaha keras menarik suami sampai mendekati sumur. Dan tak tahu mengapa saya sudah berada di mulut sumur dengan sebelah kaki di dalamnya. Seolah hendak menceburkan diri berikut suami jika bisa. Mimpi itu tak jelas akhirnya, saya sudah terjaga. Sendirian di ranjang. Suami kerja jauh jadi buruh bangunan di Tangerang. Saya kesepian sekaligus ketakutan!

Cemburu? Tentu setiap istri miliki rasa itu. Apalagi jika harus tinggal berjauhan, pasti ada syak wasangka. Apalagi sudah dari sononya saya termasuk cemburuan. Saya mengkhawatirkan suami dan takut kehilangan!

Beginilah nasib istri yang ditinggal jauh suaminya mencari nafkah di luar kota. Sesuatu yang bahkan tak pernah terbayangkan. Menikah saja masih dalam hitungan bulan. Dan saat lajang jika dalam kendaraan melihat sepasang suami-istri, terkadang dengan anak mereka, saling berpamitan; saya hanya melihatnya sebagai adegan wajar. Tak pernah merasa harus sentimental karena bukan pemeran demikian. Namun setelah menikah segalanya berbeda. Saya menjadi bagian dari peristiwa-seorang-istri-ditinggal-suami-untuk-kerja. Belajar memahami lintasan kehidupan. Dan saya mencintai suami meski tidak tahu seberapa besar rasa cintanya pada saya. Saya takut perempuan itu menjadi sosok nyata di kemudian hari. Bahwa saya harus kalah bersaing dalam banyak hal. Kurus mungil dan tak seksi, berpenampilan sembarangan dan tak pandai menggunakan riasan meski punya seperangkat kosmetik dari seserahan. Perempuan itu cantik dan tahu bagaimana merawat penampilan. Bukan berarti saya tak bisa dandan dan mengurus penampilan, namun harus saya akui kurang peduli untuk selalu apik sepanjang hari. Saya ibu rumah tangga yang cukup sibuk dengan dunianya. Dulu suami tak pernah meributkan penampilan, namun sejak pulang ia protes menyuruh saya selalu dandan, barangkali terpengaruh pada selera orang kota, atau hanya ingin bangga bahwa istrinya cantik senantiasa.

Saya merindukan suami.

Ia lelaki yang baik meski sering dicela orang lain. Setidaknya ia cukup  baik pada saya. Saya membutuhkan lelaki macam demikian, yang tidak kasar pada istri dan bertanggung jawab. Jika bercinta, ia selalu tanya apa saya sudah orgasme atau belum. Dulu saya tak tahu apa arti orgasme, tetapi saya menikmati persetubuhan kami karena tidak macam-macam dan cara konvensional. Tak bisa saya bayangkan jika bersuamikan macam Wen Fu tokoh rekaan Amy Tan dalam novel The Kitchen God’s Wife, lelaki kasar bahkan dalam percintaan. Itu mengerikan!

Suami akan berusaha lagi dan lagi sampai saya orgasme. Ia bahkan rela memenuhi keinginan saya jika tak puas dan ingin lagi, bukan karena tak memuaskan melainkan saya menyukai persetubuhan kami. Saya hanya suka jika tubuh kami sudah menyatu, seperti ada ikatan agar tak terpisahkan. Apakah senua perempuan menikah demikian?

Ia lebih suka bercinta dengan lampu menyala, katanya lebih menggairahkan jika sambil melihat wajah saya. Ekspresi aneh yang tak dijumpai dalam rutinitas keseharian selain di atas ranjang. Apakah pasangan yang sedang bercinta selalu jauh lebih rupawan?

Saya tertawa dan menceritakan hal demikian pada seorang kawan yang sudah dianggap abang. Kami selalu blak-blakan jika chatting di YM! sebab entah mengapa merasa nyaman. Ia belum menikah juga meski usianya sudah 35. Namun ia minta saya mendoakan agar bisa menikahi perempuan pilihan yang dikenalnya. Ia begitu bahagia cerita perihalnya, dan kebahagiaannya meresap pula pada saya. Kami bisa bicara berjam-jam perihal apa saja, ia berbeda dan tak membuat saya terhakimi jika bercerita mengenai hal pribadi yang paling memalukan. Padahal kami hanya dipertemukan jaringan Multiply, dan dulu saya sering baca tulisannya karena kagum pada keahliannya dalam membuat desain grafis sampai fotografi. Ia yang mulai meng-add saya, kawan Fakhurradzie Gabe yang jurnalis juga. Padahal Radzie hanya kawan maya saya di milis guyubbahasa. Radzie sudah lama tak berkabar. Mungkin masih sibuk jadi aktivis LSM kemanusiaan. Saya juga sudah lama tak nongkrong di milis guyubbahasa, terlalu sibuk memasarkan tulisan ke berbagai media. Segalanya berbeda, apalagi setelah menikah kini. Lebih fokus pada kehamilan dan suami.

Kembali pada suami, pernah di awal pernikahan kami, saat bangun pagi saya merasa lemas sekali. Ia membangunkan saya sampai menyadari sakit sungguhan untuk pertama kali dalam pernikahan. Ia cemas sekali. Saya berantakan daripada biasanya. Kelelahan dan kurang makan. Juga demam. Jadi, ialah yang mengerjakan aktivitas harian. Sampai membangunkan saya lagi untuk mandi air panas. Ia yang memasaknya. Katanya saya harus makan dan minum obat, jadi diminta mandi dulu agar mendingan. Lalu boleh tidur lagi, ia yang menyelimuti. Namun saya bosan jadi pesakitan, jelang sore kembali beraktivitas mengabaikan sarannya agar beristirahat. Saya tak suka terus-menerus menggigil kedinginan dan butuh gerak. Ia tak bisa melarang. Namun saya menyukai perlakuannya dalam merawat istri.

Kami tak pernah bertengkar hebat, hanya perselisihan kecil yang tak meninggalkan riak. Namun pernah satu kali kami berselisih untuk hal konyol. Saya ingin bercinta sedang ia terlalu lelah dan tak bergairah. Saya marah dan memunggunginya, ia merasa bersalah dan coba mengalah. Berupaya menghidupkan “peralatannya” agar siap tempur dan mencumbu saya. Namun saya terlalu marah dan sok jual mahal. Gantian ia tersinggung dan kembali berpakaina. Saya menyesal dan minta maaf, namun ia malah marah. Jadi begitulah, ketika ia berpakaian, saya kembali mengenakan pakaian yang dilucutinya. Ditambah sarung, dan bersiap pergi ke rumah ibu saya. “Mau ke mana?” tanyanya sambil berbaring.

“Pulang!” jawab saya, kesal karena tak beroleh keinginan apalagi dimaafkan untuk yang tadi.

Ia pikir saya main-main, namun saya benaran keluar kamar dan hendak membuka pintu ruang tamu. Ia menyusul dan mencegah saya. “Sudah tengah malam,” katanya sambil menunjuk jam yang terpajang di dinding gedek. Saya tercengang. Pukul dua belas lebih. Berapa lama tadi kami berselisih? Namun saya terlalu egois dan kecewa padanya jadi tak peduli. Tiba-tiba ia malah bersimpuh memegang kaki saya. Itu peristiwa paling mengagetkan, seumur hidup baru ada yang demikian. Namun saya mendorongnya dan terpaksa berbalik ke kamar. Lalu saya menyesal apalagi ia tidak ikut masuk kamar. Saya membuka tirai dan masih melihatnya bersimpuh cara tadi, ia sedang tercenung dan tampak menyesal.

“Masuklah,” kata saya akhirnya, tak tega juga melihat ekspresi wajahnya.

Ia mendongak tak percaya, dan saya harus minta maaf agar ia kembali masuk kamar. Pada akhirnya kami saling meminta maaf dan memaafkan. Kembali berbaring di kasur dan berpelukan. Tidak ada amarah apalagi kebencian. Dan saya tak memaksanya jika ia enggan bercinta karena stres atau kelelahan. Meski pada akhirnya saat lelah pun ia berusaha agar bisa memenuhi keinginan saya maupun keinginannya. Ia seolah takut peristiwa tersebut berulang. Biasanya jika sedang ingin, ia tanya dulu apa saya rida melayani dan tak memaksa jika ternyata enggan. Kalaupun memaksa, ia tak kasar dan saya selalu luluh untuk melayaninya toh juga menikmati. Saya hanya engan pada bulan ke-5 kehamilan karena khawatir pada bayi. Namun suami selalu melakukannya dengan cara lembut dan pelan-pelan. Rasanya kami tidak bermasalah di atas ranjang. Hanya kadang menjumpai masalah dalam hidup keseharian. Dan seks bagi kami bisa jadi semacam pelipur lara, penghilang kesedihan agar tetap bahagia.

SMS dari Reni kawan saya di Bandung membuat heran. Ia mengutip saran dokternya agar lebih sering bersebadan biar bayi kuat. Itu pengalaman yang telah dipraktikkannya. Anaknya satu, perempuan dan sudah masuk TK. Pasti cantik seperti ibunya. Saya kangen dan ingin menjumpainya, namun tak boleh bepergian terlalu jauh. Suami akan melarang untuk alasan apa pun. Ia mengkhawatirkan saya dan bayi, apalagi saya pernah ambruk dan nyaris pingsan pada kehamilan bulan ke-3. Menjadi pemalas dan sangat moody pada bulan ke-4, malah muntah-muntah pada bulan ke-5. Lalu membaik pada bulan ke-6. Lalu masih mual dan kadang muntah pada bulan selanjutnya jika di jamban.

Ada banyak peristiwa. Ia bukan lelaki yang romantis apalagi sok puitis. Namun ia bisa romantis. Pernah suatu malam ia meninggalkan saya tidur sendirian untuk nonton TV di tetangga sebelah. Ia merasa bersalah meski saya tak melarang. Sebab begitu saya terjaga, mendapati lengannya sudah memeluk tubuh dan kepala saya. Ia sendiri sudah terbaring nyenyak. Entah pukul berapa. Namun biasanya ia tak pernah meninggalkan saya lama. Rumah suami dikononkan angker lokasinya. Meski saya tak peduli dan biasa keluar sendiri untuk panggilan alam, suami lebih sering menemani.

Ia menyuruh saya memakai sawen di kutang, katanya untuk jaga-jaga. Entah jaga-jaga dari apa. Saya tak percaya klenik dan enggan harus berjimat. Isi sawen lucu, kantung kain kecil beraroma bawang putih. Namun saya terpaksa mematuhinya, ia hanya ingin mematuhi petuah orang tua tentang kepercayaan karuhun.

Yang lucu adalah pada suatu malam ia mengupas bawang putih dan menggosokkannya di jempol kaki saya. Disuruh neneknya. Penolak setan yang barangkali doyan mengemut jempol perempuan hamil untuk diisap darahnya. Ada-ada saja. Saya jadi berbau bawang putih dan tak menggairahkan untuk bercinta. Lucunya ia tetap mengajak bercinta di antara aroma bawang yang menguar.

Saya menanti suami pulang. Mencoreti angka di kalender setiap hari. Berharap ia baik-baik saja dan dijauhkan dari perbuatan maksiat maupun petaka. Saya mencintainya dengan doa yang melimpah. Ia lelaki bersahaja yang tak keren dari segi penampilan. Celana dalamnya saja sudah belel dan menyedihkan padahal cuma lima. Saya tak ada waktu untuk menjahit ulang dan menyarankan beli lagi karena tak tahu ukurannya. Namun ia mengabaikan. Katanya lebih mementingkan keperluan saya dan bayi.

Sekarang sejak kerja jauh, ia bertambah kurus. Saya sedih melihatnya. Seperti interniran zaman perang. Hampir menyerupai jerangkong terutama di tulang selangkangan. Namun ia hanya bilang, “Semua demi kamu.” Membuat saya termangu.

Ia menjawab kecemasan saya kala melepasnya pergi atau menyambutnya pulang, bahwa saya khawatir sesuatu menimpanya di perjalanan. Ia rela mengorbankan nyawanya demi saya dan bayi. Saya tak tega dan tak ingin jadi janda. Bayi kami membutuhkan figur ayah, bukankah ia sangat ingin jadi ayah. Dan kami mensyukuri kehamilan ini sebab ada banyak pasangan yang sulit beroleh keturunan. Namun kami sadar bahwa itu harus diperjuangkan dan butuh pengorbanan besar.

Bayi selalu bergerak, kata orang pertanda sehat. Saya melihat hidup dan bayi dan suami; sebagai bagian dari lingkaran takdir. Dan saya tak berharap perkawinan kami kandas menuju titik nadir!***

Limbangan, Garut, 5 September 2009

Malam Ini, 1 Mei 2003 (Untuk Cecep Syamsul Hari)

“Kata orang, Mei adalah bulan kebahagiaan.”

Sepenggal kalimat yang diucapkan Julia Salas pada Alfredo salazar di cerpen Bintang yang Tidak Bersinar Lagi, Paz Marquez Benitez, dari antologi cerpen Lelaki di Simpang Jalan yang menghanyutkan; sebab saya membelinya pada suatu hari yang riang di Gramedia Merdeka, lalu dalam perjalanan pulang ke Limbangan segera membacanya di atas KRD kelas ekonomi yang penuh sesak, angkot jurusan Stasiun Cicalengka-Terminal Limbangan yang bikin pusing saat lewat tanjakan Nagrek, dan di atas sado dalam embusan angin siang. Lantas setiap membacanya, selalu saja ruh ruang dan waktu itu meleburkan bawah sadar, di mana pun saya membacanya.

Dan tentunya nada yang saya ucapkan berbeda dengan suasana hati Julia Salas pada Alfredo Salazar waktu itu.

Maka, untuk 1 Mei 2003 ini, selamat menempuh langkah selama 36 tahun. Semoga Anda tetap senantiasa menghasilkan karya yang lebih matang, sematang usia dan pengalaman Anda dalam menghayati makna kehidupan.

Selamat Ulang Tahun

(Jangan salah paham, saya tak pernah memberi ucapan ini pada pria yang sudah berkeluarga sebab takut disalahtafsirkan, namun semoga Anda suka.)

Semoga saat ini Anda sedang berbahagia. Dan bisa menabur kebahagiaan pada sekitar. Amin 3X.

Wassalam

Rohyati Sofjan

Sumbangan Apa yang Bisa Kau Berikan Pada Bahasa Indonesia, Pemuda?

Sumbangan Apa yang Bisa Kau Berikan

Pada Bahasa Indonesia, Pemuda?

Oleh Rohyati Sofjan

Apakah bahasa Indonesia tak lebih dari perkara remeh-temeh semata? Kalah perbawa dibandingkan dengan hal-hal lain yang dianggap lebih utama? Lalu, bagaimana sesungguhnya cara pandang kita terhadap Sumpah Pemuda nun 28 Oktober 1928 silam? Apakah perjalanan panjang yang diikrarkan para pemuda kala Indonesia masih dalam fase dijajah dan baru idealisasi cita-cita suatu nation merdeka, akan kita abaikan karena telah merasa bebas lepas dari penjajahan padahal di depan mata tersaji ancaman penjajahan lain dalam bentuk yang lebih menggurita; semacam neoliberalisme yang kita “persilakan” menggilas harkat bangsa dan negara, juga bahasa!
Jadi, sumbangan apa yang bisa kau berikan pada bahasa Indonesia, Pemuda?
Mungkin ada di antara kita yang hebat dalam berbagai bidang. Disegani pihak luar dan dalam karena sarat prestasi, tidak cuma di kancah dalam negeri semata, tetapi juga luar negeri. Sesuatu yang sungguh sangat membanggakan sebab mereka juga bisa menjadi teladan.
Namun apakah kita merasa cukup dengan semua?
Di antara ingar-bingar tabrakan kepentingan, konflik politik dan ideologi, juga kemunduran ekonomi dan moral, ditambah beragam bencana alam sampai buatan manusia, sesungguhnya bangsa kita menanggung beban tak tertanggungkan. Beban yang menuntut tanggung jawab dari kaum muda agar bisa mengatasinya. Mengapa yang muda? Ya, karena merekalah generasi harapan setelah kaum tua terlalu lelah atau berbuat banyak kesalahan.
Masalahnya, dengan cara apa kita berbuat, Pemuda?
Sanggupkah kita menjadi generasi yang mengemban amanat besar agar bisa mengangkat martabat Indonesia dari jurang kehancuran? Apalagi, jika cuma sebagian kecil saja dari populasi kaum muda yang bisa diharapkan sebagai generasi ideal. Sisanya pada kocar-kacir ke arah berlainan, tumpang tindih digerus peradaban atas nama modernisasi (atau westernisasi?) yang disalahtafsirkan sesuai Kamus Besar Hidup Mereka (KBHM). Lu ya lu, gue ya gue. Lalu lu di mana saat gue bagaimana? Sesuatu yang membuat mereka kehilangan arah atau malah berakhir sebagai sampah.
Jadi, kita akan ke mana, Pemuda?
Masihkah Sumpah Pemuda yang diikrarkan kaum muda-mudi perindu hawa merdeka, nun 78 tahun silam, cuma berakhir sebagai ajang seremoni tahunan hampa makna, tak mengendap dalam ruang renung. Padahal berbagai ancaman siap memangsa, memangsa jiwa dari bangsa yang mudah melupa.
Sesungguhnya kita belum sepenuhnya merdeka. Penjajahan ada di mana-mana. Bahkan media pun terang-terangan menjajah kita dengan beragam acara dan berita yang didiktekan pihak luar, atas nama kapitalisme, agar dikonsumsi masyarakat lemah tak berpendirian. Semacam pembodohan.
Apakah kita akan diam saja, Pemuda?
Sudah cukup masalah datang bertubi-tubi, silih berganti. Akan tetapi, bisakah kita terus bangkit meski sering jatuh bangun demi menyongsong fajar baru alih generasi dengan kepemimpinan pemuda yang lebih baik dan sarat keteladanan. Bercermin dari masa lalu demi masa mendatang. Mengubah energi negatif menjadi positif: dari mental pecundang menjadi pemenang, dari peran korban bermetamorfosis menjadi pemeran, dari pendendam menjadi pengambil hikmah. Demikianlah.
Sekarang, mari kita telaah makna bahasa Indonesia di mata kaum muda. Bukan tanpa alasan jika butir ketiga dari Sumpah Pemuda berisikan: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia; yang alhamdulillah tetap bergaung sampai sekarang menjadi lingua franca (bahasa pengantar)! Namun gaung itu nihil arti jika tidak ada kepedulian dari kaum muda untuk terus-menerus mengembangkan bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang sarat dinamika.
Seorang kawan ngotot berpendapat bahwa penjajahan itu ada di berbagai bidang, termasuk bahasa Indonesia yang telah terkontaminasi sebagai alat untuk dijajah dan menjajah. Ketika sifat bahasa yang semula netral berubah menjadi bias dan sarat ambiguitas. Saya setuju dengan makna penjajahan yang ditawarkan sang kawan, sebab ada berbagai kepentingan yang mengintai dan bahasa menjadi mediumnya. Dari sosial, politik, ekonomi, teknologi, agama, budaya, sampai gender. Akan tetapi, terlalu naif jika menyalahkan bahasa sebagai biang kerok dari berbagai “musibah”, semuanya berpulang pada pelaku kebahasaan sendiri. Bagaimana mereka akan berbahasa dan meresepsi bahasa?
Sesungguhnya, sejarah bahasa Indonesia itu panjang sebagaimana sejarah bahasa-bahasa lain di dunia. Pelan namun pasti, ada semacam metamorfosis tersendiri yang mengiringi dinamika berbahasa di negeri ini. Sayangnya, metamorfosis tersebut kurang disadari sebagian besar pengguna bahasa. Yang lebih dominan malah masuknya peristilahan asing yang digunakan secara semena-mena oleh pelaku kebahasaan, baik kalangan tua maupun muda.
Itu memprihatinkan sebab ada pengaburan nilai ketika tanpa disadari mereka tercerabut dari akar. Merasa gagah mencampur kosakata bahasa asing atau gaul ke dalam bahasa Indonesia, tanpa memedulikan situasi atau konteks yang menyertainya. Walhasil, campur-aduklah jadinya. Apakah serendah itu nilai bahasa Indonesia dalam relasi komunikasi antarsesama? Belum lagi diperparah oleh ketidaktepatan pengungkapan, baik secara lisan maupun tulisan, seolah mereka gagap mengonsepsikan imajinasi dan gagasan dalam kerangka bahasa karena ketidakcakapan mereka sendiri untuk menyerap hal-ihwal tebaran kehidupan.
Memang, kehadiran bahasa asing pada hakikatnya bisa memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Bahkan bahasa daerah pun ikut andil. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga yang tebalnya 1.382 halaman (plus xxxv lampiran), memuat berbagai lema dari bahasa Indonesia, daerah, Melayu, Arab, sampai bahasa asing yang masuk sebagai kata serapan.
Persoalannya, semua itu berpulang pada kecakapan kita dalam memperlakukan bahasa. Apakah akan peduli pada kaidah-kaidah yang telah dibuat dan disepakati dengan susah-payah? Dibutuhkan tanggung jawab personal dari insan-insan penutur bahasa, bahwa mereka bisa menjadi teladan bagi semua. Terutama generasi muda. Sudah cukup kenyang bangsa kita dicekoki sekian dogma dari gaya tutur petinggi negeri (sampai kaum selebriti) yang tak becus berkonsepsi. Kata-kata itu ajaib, bebas dan tak mengikat; namun kata-kata pun bisa menjadi bumerang atau menuntut tanggung jawab, Saudara!
Lalu bagaimana cara kita bertanggung jawab?
Bacalah tanda, pelajarilah isi semesta. Asah kepekaan panca indra dan akal pikiran. Lalu songsong perubahan dengan ketajaman berikut kejernihan perspektif. Semua itu membutuhkan daya kritis dari kaum muda agar sudi menjadi teladan demi regenerasi bagi insan-insan masa depan. Untuk itu dibutuhkan bimbingan dari kaum tua yang cendekia dan bijaksana. Sebab siklus kehidupan senantiasa menuntut perbuatan sebagai semacam daur ulang.
Saya prihatin karena sehebat-hebatnya kaum muda di berbagai bidang, sampai menjadi aktivis kepemudaan dan lingkungan, ada semacam kevakuman alih generasi atau regenerasi untuk bidang kebahasaan. Apakah ilmu bahasa Indonesia itu memang mubazir? Berapa banyak sarjana sastra dan bahasa yang dicetak Indonesia, namun berapa pula yang berkontribusi demi kemajuan bahasa Indonesia?
Sebenarnya, yang ingin saya sorot adalah kemampuan pemuda sendiri dalam berbahasa. Apa pun strata pendidikan dan status sosial-ekonominya. Sebab, bahasa Indonesia berada dalam perkembangan mengagumkan sekaligus memprihatinkan. Mengagumkan karena sempat membuat “gentar” negeri-negeri jiran terhadap hegemoni bahasa Indonesia, berkaitan dengan era teknologi informasi masa kini. Ketika Indonesia dianggap pesat dalam perkembangan sastranya.1 Memprihatinkan karena pada hakikatnya tak banyak muda-mudi Indonesia yang peduli pada perkembangan bahasa nasional mereka.
Secara umum, penutur bahasa Indonesia terbagi dalam tiga kubu: pakar bahasa, kaum profesi, dan masyarakat umum.2 Mereka saling melengkapi dan menunjang. Pakar berbuat demi kemajuan bahasa dalam masyarakat; kaum profesi menggunakan hasil kerja pakar sebagai elemen kinerja mereka kala melebur dalam kehidupan bermasyarakat; dan masyarakat umum berbahasa sesuai acuan yang diserap dari pakar, kaum profesi, sampai persentuhan dengan sesama mereka yang awam sekalipun. Tanpa salah satu elemen, maka akan timpang. Jadi, tak bisa salah satu dianggap lebih daripada lainnya. Akan tetapi, kehadiran pakar bahasa rasanya masih kurang dibanding dengan mayoritas penggunanya. Itu berkaitan dengan regenerasi. Ibarat alih tongkat estafet kepemimpinan.
Dalam Konvensi Bahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) ke III yang membahas topik mengenai bahasa periklanan di Wisma Kompas-Gramedia Pacet, Cianjur; saya amati bahwa kebanyakan peserta sudah sepuh dan berusia di atas tiga puluh tahun. Yang berusia di bawah tiga puluh cuma segelintir. Ada rekan asisten editor dari Mizan, editor bahasa dari Gatra dan Trust, beberapa rekan editor bahasa dari media massa lain (cetak dan elektronik), penerjemah lepas, staf peneliti dari divisi Laboratium Geografi UI, dan saya sendiri untuk kategori freelance sebagi penulis lepas cum karyawan biasa yang ikut forum tersebut karena anggota milis guyubbahasa FBMM cukup aktif.
Dari beberapa makalah yang dipresentasikan kalangan senior, mulai dari Ernst Katoppo, Irmina Irawati, dan Zainal Arifin; ternyata di tangan beberapa insan pencinta bahasa, bahasa bisa diuraikan secara ramah, kocak, bersahabat, cerdas, bernas, sekaligus tegas.
Betapa menyenangkan berada di ruang konvensi itu. Menambah wawasan dan ruang lingkup pergaulan di antara sesama (minoritas) pencinta bahasa Indonesia yang berusaha keras agar penggunaan bahasa tersebut sesuai ritme kehidupan.
Akan tetapi, dalam konvensi itu, ada semacam kerisauan: masalah regenerasi dan involusi yang berputar-putar. Boleh dikata, yang muda cuma sedikit ikutnya, dan rasanya belum bisa diandalkan untuk menjadi pakar selain tuntutan profesi semata. Padahal FBMM telah membuka diri pada berbagai elemen media massa dan mengundang mereka untuk bergabung, namun selalu terbentur pada kebijakan masing-masing perusahaan media yang diundang.
Ada juga beberapa kalangan muda sesama guyuber (sebutan untuk anggota milis guyubbahasa), namun tampaknya mereka kurang aktif dalam jalur diskusi, berkesan cuma mengamati atau miliser pasif. Bisakah mereka mengambil-alih tongkat estafet? Semacam regenerasi dari orang dalam demi dunia luar? Padahal, tak ada salahnya mereka aktif berbicara dan bertanya dalam ajang diskusi tersebut demi mengasah potensi diri. Bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang pasif apalagi stag, dan itu membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Betapa jauhnya pencapaian dan ketekunan yang diteladankan Anton M. Moeliono, J.S. Badudu, sampai Pamusuk Eneste.
FBMM memang khusus untuk editor media massa cetak dan elektronik, termasuk media penerbitan lain, namun mereka pun membuka diri pada khalayak luas yang tertarik dan serius untuk bergabung. Masalahnya, lagi-lagi, ada semacam involusi dalam diskusi FBMM di milis guyubbahasa, berkaitan dengan kaum profesi lain dan masyarakat kebanyakan yang tak akrab dengan penggunaan bahasa Indonesia cara FBMM (yang sebenarnya tak bermaksud menyaingi Pusat Bahasa sebagai lembaga resmi utama).
Ada “lelucon” yang disodorkan Agus R. Sarjono dalam esainya, “Bahasa Indonesia dan Orang Asing” (Pikiran Rakyat, 11 April 2004). Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari! Begitulah kesan yang diberikan hampir semua mahasiswa semester satu sampai empat Jerman — juga Belanda — yang mengambil studi bahasa Indonesia. Dalam satu-dua semester saja, seorang mahasiswa sudah dapat melakukan percakapan sederhana dalam bahasa Indonesia; sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan dengan bahasa Arab, Jepang, atau Cina. Namun marilah bertanya pada mahasiswa yang sudah lulus sebagai sarjana bahasa Indonesia di tempat yang sama, maka hampir seluruhnya bergumam serempak: bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling sulit dikuasai.
Mengapa demikian? Itu berkaitan dengan cara tutur orang Indonesia sendiri dalam berbahasa. Mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, gaul, atau asing; kalimat-kalimat yang kehilangan subjek atau predikat; sampai ketidaklogisan dan ketidakjelasan dalam berbahasa. Termasuk “kesaktian” imbuhan yang bisa mengubah suatu kata menjadi beragam makna.
Begitulah bahasa Indonesia, jangankan rumit bagi orang asing, kaum pribumi pun bisa pusing.
Akan tetapi, ada yang lebih memusingkan bagi saya. Berkaitan dengan tanggung jawab profesi di kalangan muda pengguna bahasa Indonesia. Mereka bisa saja pelajar, santri, mahasiswa, pengajar, jurnalis, ekonom, pengacara, peniaga, politikus, aktivis, dan sekian profesi lain yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium aktivitasnya. Sampai sejauh mana kepedulian mereka dalam berbahasa? Tidak cuma mengikuti kaidah gramatikal dan leksikal semata.
Saya ingin menyorot “kekonstanan” berbahasa di kalangan penulis muda. Mereka yang sangat potensial dalam ide dan imajinasi namun stagnan dalam bingkai. Mulai dari kesalahan sederhana macam ketidaktepatan berbahasa (atau ketidaktahuan karena memang tidak tahu atau kesoktahuan dan kemalasan tak mau membaca buku acuan gramatika apalagi kamus bahasa Indonesia). Seperti penggunaan kata depan dan imbuhan yang sering bertukar tempat tidak pada tempatnya. Padahal itu sangat besar dampaknya, mendorong orang awam untuk ikut-ikutan salah kaprah tanpa tahu maknanya.
Kalau sudah demikian, maka repotlah semua. Pakar bahasa terpaksa buang-buang energi untuk membetulkan, segelintir kaum profesi yang peduli dan mau mengerti mencoba mengikuti kaidah demikian. Namun akibatnya hal itu seperti menyita energi dan waktu untuk fokus pada hal lain yang lebih penting. Pembahasan kosakata baru sesuai dinamika teknologi informasi, misalnya. Seperti pembahasan kata serapan dari istilah komputer dan telekomunikasi. Bagaimana “memasarkan” tetikus sebagai kata serapan dari mouse, pindai/pemindai dari scan, penggandaan dari back-up, sampai Surat Menyurat Singkat (SMS) dari Short Message Service (yang pernah jadi bahan debat kusir di antara beberapa guyuber, apakah “pesan pendek” itu akan diubah jadi Sandek [konon ada suku bernama demikian] atau Pepen [nama orang], atau apa saja sesuka mereka, hehehe…).
Itu baru teknologi informatika, masih banyak bidang lain yang menanti “sentuhan” diskusi bahasa seperti kedokteran, pertanian, kelautan, perdagangan, kedirgantaraan, otomotif, kuliner, olah raga, ilmu-ilmu eksakta, dan sebagainya. Jadi, sesungguhnya dibutuhkan kerja sama semacam simbiosis mutualisme antara pakar bahasa dengan kaum aneka profesi, secara profesional, demi memajukan dan mengenalkan dinamika tersebut pada masyarakat luas bahwa bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang stagnan.
Saya tertarik pada bahasa Indonesia karena sifatnya yang fleksibel. Namun fleksibelitas itu membutuhkan pengikut, terutama dari kalangan muda, sang calon pemimpin bangsa; agar bisa sama-sama berkembang tanpa diburu kekhawatiran bahwa tak akan ada pakar bahasa di kalangan muda. Sebab mereka terlalu sibuk dan asyik sendiri dengan dunianya. Cuek pada bahasa Indonesia karena dianggap mudah jadi disepelekan, atau sukar lalu dipersetankan. Padahal mempelajari dan mengajinya adalah hal yang mengasyikkan; syaratnya, dibutuhkan kecintaan dan kepedulian.
Dan saya miris karena tak semua media massa sudi bergabung dan asyik berdiskusi soal bahasa di milis guyubbahasa@yahoogroups.com atau pertemuan bulanan FBMM. Soalnya, dalam pengamatan saya, ketidakkonsistenan berbagai media dalam berbahasa itu tak cuma membingungkan masyarakat awam (termasuk kaum profesi dan pakar yang peduli), tetapi juga menyesatkan. Bukankah pekerja media merupakan ujung tombak transformasi gagasan dan pemikiran pada khalayak banyak? Namun dibutuhkan kerendahhatian dari kubu pakar bahasa, kaum profesi, sampai masyarakat.
Ya, mari kita bekerja sama, membuang ego dan sinisme, demi memperjuangkan eksistensi bahasa sebagai identitas bangsa yang sangat signifikan untuk kita wariskan pada generasi mendatang. Juga menunjukkan pada dunia bahwa bahasa Indonesia cukup bermartabat sebagai lingua franca sebab telah diakui oleh berbagai kalangan di beberapa negeri jiran. Siapa tahu pula kelak, bahasa Indonesia bisa masuk kategori bahasa pergaulan utama dunia. Prosesnya memang panjang dan melingkar. Namun mengapa tidak? Tinggal, seberapa kuat dan gigih tekad kita untuk menjadi teladan? Menyumbangkan segenap potensi diri demi kemajuan bangsa, agama, dan tanah air.
Mari, Tuan-Puan muda!***
Limbangan, 17-21 Juli 2006
Catatan akhir:
1 Segenggam Gumam, Helvy Tiana Rosa, hlm. 128.
2 Bahasa dan Bonafiditas Hantu, Agus R. Sarjono, hlm. xi; merupakan bagian pengantar dari Hasan Alwi, Kepala Pusat Bahasa.