Hikayat Bahasa Populer bagi Penghuni Planet Sunyi

Hikayat Bahasa Populer bagi Penghuni Planet Sunyi

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas

 

K

etika televisi menayangkan iklan penyanyi Lissa dengan lagu “Keong Racun”, Palung, putra saya yang baru berusia beberapa bulan langsung menghentikan aktivitasnya, ia akan duduk manis dan menyimak Lissa sambil menggoyang-goyangkan badan cara bayi. Cara lucu yang kontras dengan Lissa yang goyangnya asoy. Saya tidak mengerti mengapa Palung suka musik dangdut, barangkali iramanya menghentak. Apakah semua bayi suka dangdut? Haha. Beethoven’s Symphony No. 9 yang tersimpan di laptop saya saja kalah heboh dengan Lissa bagi Palung. Namun yang paling tidak saya mengerti adalah judul lagu itu. Keong racun saja dilagukan. Itu tentang fauna atau menu makanan beracun? Itu lintasan pikiran konyol saya, seorang tunarungu yang sering kuper pada hal populer.

Lalu Sule dengan lagu “Prikitiew” membuat saya bengong. Mengingatkan pada piriwitan alias peluit atau (lagi-lagi) menu makanan kwetiau yang seumur hidup belum pernah saya coba dan saya ngiler ingin mencobanya sekarang. Pembaca yang budiman, tertawakan saja lintasan pikiran saya yang dipenuhi keterbatasan. Betapa lugunya seorang penghuni planet sunyi di antara ingarnya dunia yang sarat peristiwa. Sampai bahasa saja menjadi masalah. Masalah yang harus saya atasi dengan mencari tahu artinya agar kekuperan saya berkurang. Atau setidaknya memuaskan rasa penasaran.

Akhirnya, di golodog rumah tetangga, ketika iseng menonton DVD sambil mengasuh Palung yang tertarik pada musik dangdut, saya baru tahu arti keong racun. Adalah Sinta dan Jojo yang bernyanyi tanpa goyang asoy tentang keong racun. Dan saya bengong membaca teks lagunya. Apa kaitan keong racun dengan lelaki hidung belang? Barangkali hidung belang tidak lagi in sebagai kiasan, keong racun lebih dahsyat efek bahasanya. Mengingatkan pada semacam keong yang jalannya lamban, berlendir pula. Ya, hewan jenis molusca itu rupanya bisa merajai blantika musik Indonesia, tidak melulu menghuni kerajaan (kingdom) binatang.

Saya sungguh salut pada kreativisme pengguna bahasa di Indonesia. Keong yang dianggap menjijikkan bagi sebagian orang bisa menjadi stigma bagi lelaki yang doyan piktor, pikiran kotor. Bagaimana bahasa kiasan bisa mengguncang dunia, seperti keong racun. Saking populernya, dalam suatu acara Opera van Java Trans7, ada adegan sinden yang menyanyikan lagu “Keong Racun”, “Dasar keong racun….” Dan Parto berjoget ala Sinta dan Jojo sebagai penari latar.

Yang unik, Sinta dan Jojo mendapat tandingan Beben dan Yayan dengan “Aku Memang Keong Racun”. Ada-ada saja, semacam jawaban bagi dasar keong racun. Lagu itu seakan berbalas pantun.

Palung bisa asyik pada musik apa saja, dan saya bersyukur karena Allah memberinya pendengaran yang baik. Namun ironi dari lagu itu tidak sesuai dengan pemahaman bayi. Suatu saat Palung akan tumbuh besar, dan mungkin akan bertanya, apa itu check in? Dan mungkin saya yang lupa pada lagu “Keong Racun” akan kelabakan menjelaskannya.

Saya pernah mencari di google tentang keong racun. Urutan teratas melulu dipenuhi link tentang lagu “Keong Racun”. Yang paling populer ternyata Sinta dan Jojo. Untuk saat itu pencarian saya terhenti, habis banyak banget, ada 5.920.000. Namun saya penasaran untuk menelusurinya lebih jauh kelak. Adakah keong racun sungguhan yang bukan kiasan? Tentu escargot yang lezat tidak beracun.

Polah manusia sekarang ini selalu disandingkan sebagai binatang. Mungkin keong racun tak sesarkas anjing, babi, dan sebagainya sebagai kiasan yang dimakikan. Namun begitu mengena karena berkaitan dengan, maaf, fungsi reproduksi yang disalahgunakan.

Dan prikitiew, sampai sekarang saya belum tahu artinya. Apakah semacam kata seru atau akronim? Saya tidak tahu. Belum terpikir untuk menghubungi Sule, lewat Facebook, misalnya. Meski di jejaring itu seorang teman pernah menulis di dinding dan ber-prikitiew. Dan kemarin, ketika selancar di beberapa situs, lagi-lagi ada komentar prikitiew di ruang tanggapan atas suatu berita. Begitu ringan, bahkan seperti semacam tambahan bagi komentar bernada meledek.

 Aduh, saya tidak pernah ikut ber-prikitiew, melafalkannya saja sudah terasa sulit bagi saya.*

Limbangan Garut, 12 Mei 2011

Bahasa Awur-awuran

Wacana

Bahasa Awur-awuran

 

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas, Tinggal di Limbangan Garut

 

 

K

atakan saya kuper dan ketinggalan zaman, atau apa saja. Karena banyak bahasa yang tidak saya pahami maksudnya; bahasa percakapan maupun tulisan di kalangan masyarakat Indonesia yang kebanyakan ajaib punya. Terutama kawula muda, namun tak menisbikan yang tua juga.

Katakan bagaimana rasanya berada di dunia sunyi yang steril dan hanya mengenal bahasa dari apa yang dibaca, bukan didengar? Entah, ya. Yang jelas saya sering bingung dan merasa tak gaul ketika harus berhadapan dengan kata atau kalimat ajaib. Barangkali saya kaku, terbawa bacaan yang kebanyakan nyastra sampai bergabung di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang anggotanya kebanyakan pencinta bahasa Indonesia (yang barangkali fanatik) sejak tahun 2003.

Pengalaman belajar di milis guyubbahasa membuat wawasan saya terbuka. Kagum, heran, sadar, sampai ngeri dengan kemampuan rekan-rekan yang kebanyakan pakar dalam membahas suatu topik sampai berargumen. Namun saya menikmatnya. Sekaligus khawatir karena sepertinya kami merupakan komunitas minoritas jika dibanding masyarakat pengguna bahasa Indonesia sebangsa dan setanah air.

Saya mencintai bahasa Indonesia, sebab hanya dengan bahasa itulah saya merasa hidup dalam wewenang yang dikuasai. Namun pengalaman mengajarkan bahwa dunia luar saya yang ingar ternyata ruwet, banyak banget bahasa awur-awuran yang bikin saya terkaget-kaget.

Mungkin yang sangat sering dan susah diubah kebiasaannya dalam masyarakat adalah penggunaan kata kami dan kita yang bertukar tempat mulu. Akibatnya, saya sering merasa terganggu.

Saya pernah membahas itu dalam surat untuk seorang kawan ketika mengomentari cerpennya yang secara gramatika masih awur-awuran. Surat itu saya pajang di blog pribadi, https://rohyatisofjan.wordpress.com, ya mudah-mudahan bermanfaat bagi yang mengunjunginya. Dan saya heran karena kejadian awur-awurannya merambah sampai sudut kampung di lereng gunung. Ah, seorang gadis Madrasah Aliyah (setara SMA) kelas XII yang masih belia dan tentu saja ceria, berbakat menulis sejak 6 SD, sudah menerbitkan novelnya dan beredar di lingkungan terbatas, sekolahnya; membuat kejutan. Cara bertuturnya mengagumkan dan tak membosankan (katanya ia suka karya Rachmania Arunita), namun yang mengkhawatirkan adalah banyak sekali penggunaan bahasa yang tak sesuai kaidah kebahasaan. Seperti virus menyebar ke mana-mana, bahasa awur-awuran itu, ternyata.

Saya bingung dengan penggunaan “secara”, karena ada paragraf di awal novel itu yang dirasa janggal: “Bukan gitu Miss Mirrel, gue juga bisa pake Bahasa Inggris, pake Bahasa Jerman pun gue bisa. Tapi secara gue tinggal di Indonesia gitu loh, nimba ilmu di Indonesia juga, cari duit juga di Indonesia jadi gue musti pake bahasa sini. Ya kalo lo udah mampu dan bisa pake Bahasa Indonesia meskipun dikit, kenapa gak digunain buat bahasa ngobrol lo….? Biar lo gampang bisanya.” Mirrel menatap gue dengan sinisnya, tatapannya tatapan permusuhan, mungkinkah dia dendam sama gue? Heuh… so what, I don’t care it… never mind lah….

 

Itu karya Rafi Alawiyah Rais. Remaja berbakat yang sebenarnya kritis. Dan saya terangsang untuk membimbing dan mengkritisinya. Ya, semacam pelengkap setelah guru-guru dan orang terdekatnya yang telah mengajarkan banyak hal. Ayahnya ternyata kepala sekolah dan guru di MTs. YPI Ciwangi Limbangan yang pernah memberi kesempatan bagi saya untuk bersekolah di sana, bercampur dengan anak lain yang berpendengaran normal. Itu baru saya tahu ketika kami pertama kali bertemu dan kenalan untuk membahas karyanya, Rafi teman sekelas Ade tetangga saya.

Saya mengerti kalau Rafi hanya terbawa virus bahasa pergaulan dari medium mana saja. Yang saya khawatirkan virus tersebut tiada obat penawarnya. Telanjur menyebar dan berurat akar. Itukah cermin kehidupan bahasa kita yang sungguh sangat mengejutkan bagi seorang tunarungu macam saya yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia 6 tahun?

Dan petualangan bahasa awurnya ternyata seperti sedang tracking di karang terjal. Saya sering merasa sesak disodok kejutan yang melemotkan. Ya, saya merasa lemot atau tulalit. Mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, ini maksudnya apa? Frase “utas” di KBBI kok berbeda dengan apa yang dimaksud Rafi. Bagi saya yang terbiasa dengan maksud: kata, cetus, dan yang bersinonim dengan itu; kebingungan!

Rafi dapat kesimpulan tentang “utas” dari mana? Utas di buku Babi Ngesot Raditya Dika saja merupakan kebalikan dari “satu”. Sayang saya tak tahu jawabannya karena kala membahas itu secara langsung sambil menunjuk KBBI pada Rafi, ia tak menjelaskan penemuan diksi ajaibnya selain mengangguk malu dan agak bingung.

Sekarang saya bingung, andai bukan penyandang tunarungu apakah saya akan peduli pada betapa awurnya dunia bahasa di negeri Indonesia tercinta. Atau malah jangan-jangan termasuk kategori orang yang sama awurnya juga dan tak ambil pusing karena sudah terbiasa. Ah.

Banyak sekali contoh bahasa awur yang membuat saya serasa jungkir balik coba memahaminya. Dan itu seolah berada di dunia hiperbolik. Dunia surealis tulisan karya Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor masih asyik, namun apakah saya berada di dunia surealis juga ketika orang-orang menulis sampai bicara dalam bahasa Indonesia yang membingungkan?

Namun saya tak ingin menyerah. Biarlah berbahagia dalam dunia sunyinya, karena sunyi mengajarkan saya untuk merenung dan mengambil jarak. Betapa logika berbahasa sudah kehilangan wibawa. Barangkali hanya segelintir kecil saja yang peduli dan ingin melakukan reformasi kebahasaan dalam artian positif. Mungkin seorang Rafi bisa saya bimbing untuk masuk komunitas kecil saya, dan siapa tahu kelak ia akan bisa membimbing yang lainnya juga untuk paham dan peduli.

Apakah saya seorang yang muluk?

Dan akankah penulis sampai penerbit media mana saja memerhatikan “kerepotan” saya, bahwa banyak kaum tunarungu yang merasa terkucil dalam bahasa nasionalnya. Tidakkah lebih baik jika mereka memberi penjelasan atau semacam catatan kaki?***

Limbangan Garut, 21 September 2010

Ketika Imlek Tiba

Suatu Hari Ketika Imlek Tiba

Cerpen Rohyati Sofjan

 

T

ante Yuan adik Mama datang bertandang, kami menyambutnya dengan senang. Tante selalu tak lupa membawa oleh-oleh untuk aku dan Didit. “Hore, Tante datang!” seru Didit berlari masuk rumah untuk mengabarkan lalu kembali ke area carport, menyambut Tante Yuan.

Aku melongok ke ambang pintu, Didit adikku yang masih TK menyalami tangan Tante Yuan ke keningnya. Tante mengusap kepala Didit. Menggendongnya. Menciumi pipi Didit yang chubby.

Aku mendekati mereka. Tante Yuan tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia belum menikah. Setiap akhir pekan, jika tak sibuk, pasti akan mengunjungi rumah besar kami. Soalnya aku dan Mama tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Papa sudah lama meninggalkan kami. Mama bilang Papa kawin lagi. Aku dan Didit sedih. Namun kehadiran Tante Yuan cukup mampu menghibur kami. Ia tidak pelit berbagi.

Assalammualaikum, Tante. Bawa oleh-oleh apa?” candaku sambil menyalami tangan Tante Yuan seperti Didit. Tante Yuan tergelak. Mencubit pipiku. Lalu seperti biasa, sebagai kebiasaan, mengusap kepalaku, lebih tepatnya mengacak-acak. Aku meringis. Rambutku yang cepak dan dikasih jel agar keren pasti terasa kasar bagi tangan Tante.

“Kecil-kecil sudah bergaya keren. Mau ke mana rambut dijelian, Purwana?” bukannya menjawab pertanyaanku Tante malah meledek.

“Nanti mau ke rumah Sansan buat imlekan, siapa tahu kebagian angpau. Di sana ada barongsai.”

“Ikut!” seru Didit, ia menggelesot turun dari pangkuan Tante Yuan. “Didit boleh ikut, ya, Kak Wawa?” rajuknya.

“Gak boleh!” aku jual mahal untuk menggoda Didit. Wah, wajahnya seketika berubah antara gusar dan mau mewek. Mulutnya jebleh. Aku tertawa.

“Tentu boleh asal Didit minta izin dulu pada Mama,” lerai Tante Yuan, ia mencium gelagatku yang jail. “Tapi sebelumnya bantu Tante ngeluarin oleh-oleh dari mobil.” Tangannya langsung membuka pintu mobil Daihatsu Terrios merah mengilat. Aku dan Didit bersorak. Banyak sekali oleh-oleh Tante Yuan.

Kami berkumpul di meja makan. Takjub pada apa yang dibawa Tante Yuan. Keranjang buahnya besar dan mewah, aku yang membawanya jelas merasa berat karena isinya  tak biasa. Ada gerangan acara istimewa apa soalnya banyak sekali hidangan yang tersaji di meja, Mama dan Nenek sedari tadi telah mempersiapkannya. Plus tambahan oleh-oleh makanan dari Tante Yuan.

“Namanya Suki,” Tante Yuan sibuk menata penganan unik, ada yang digulung dan dihias isian entah apa namanya. seumur hidup aku belum pernah makan apa yang Tante Yuan sebut sebagai suki. Oh, lupa, pernah sih coba sukiyaki dari resto Hokben, namun yang ini beda. Kata Tante Yuan buatannya sendiri. Pasti yummi. Didit minta izin mengambil satu, yang berbentuk penguin.

“Enak,” kata Didit, ia meneruskan gigitannya lalu mengunyah. Aku jadi ngiler. Tante Yuan tersenyum. Ambil saja, jangan sungkan, katanya. Maka aku mengambil yang berbentuk burung. Lengan Didit sudah terjulur lagi mengambil yang berbentuk kepala Spongebob. Kami duduk dengan manis di atas meja, menyantapi aneka suki yang tersaji. Wah, banyak sekali. Ada kacamata, kakap brokoli, ayam gulung udang, sayuran, dan masih banyak lagi. Plus tambahan kuah. Kaldu ayam dan tomyam. Nyam-nyam….

Nenek dan Mama muncul dari ambang pantry, cipika-cipiki dengan Tante Yuan. Mereka girang sekali. Aku curiga sebab tidak seperti biasanya. Wajah Tante Yuan merona.

“Tante mau dilamar ya?” aku usil lagi, teringat Om Koko yang keturunan Tionghoa tapi sudah muallaf. Wajah Tante Yuan kian merona. Didit bersorak. Om Koko sangat baik pada kami.

“Nanti Om Koko dan keluarganya akan datang kemari,” Mama flirting padaku. Aku tergelak.

“Wah asyik dong! Ya, Nek. Nenek dan Kakek akan mantuan, hehe….”   

“Usil!” Tante Yuan mencubit pipiku dengan gemas. Wadaow! Nenek hanya tersenyum geli. Kakek muncul dari halaman belakang, dari tadi Kakek sibuk mengurus ikan-ikan di kolam. Ada taman berikut gazebo di rumah kami yang asri. Tante Yuan memintaku dan Didit membawa sebagian suki dalam wadah dengan penutup plastik transparan berikut kue keranjang ke gazebo. Asal tahu saja, kue keranjang itu nama lain dari dodol cina, rasanya manis legit. Berbeda teksturnya dengan dodol garut yang biasa kumakan. Dodol garut sih sepanjang hari pasti ada, kalau dodol cina unik karena cuma setahun sekali ada di pasaran. Biasanya menjelang imlek. Aku tahunya ya dari Sansan sobat sebangkuku di sekolah. Kami dua bocah keren beda etnis namun rukun dan akrab sebagai sahabat.

Sekarang di keluargaku akan ada tambahan etnis lagi. Lucu ya membayangkan mata Om Koko yang agak sipit itu jika tertawa. Akan seperti apa tampang anak-anak mereka, sepupu kami kelak? Hehe.

Aku dan Didit kembali bergabung ke ruang tengah, nimbrung dengan keluarga kami yang hangat dan periang, menyantap aneka penganan berikut irisan kue keranjang. Lalu minta izin untuk ke rumah Sansan. “Hati-hati!” pesan mereka serempak.

“Tunggu sebentar, Wawa. Tante lupa ada oleh-oleh untuk keluarga Sansan. Tante Yuan menyusul kami. Ia berjalan ke arah mobilnya, mengambil kantung kain, ada wadah besar tersembul. “Kue khusus,” Tante Yuan seolah membaca pikiranku.

Aku jadi penasaran dan ingin melongok apa isinya. Namun Tante Yuan mencegah. “Cuma blackforest kok, tapi dengan hiasan. Tante sudah bikin dua. Ada lagi satunya,” Tante Yuan mengambil bungkusan lain yang serupa, menunjukkannya pada kami dengan gaya menggoda. “Ayo cepat sana, gih!” tawanya berderai. Didit dan aku sudah ngiler membayangkan kue bolu cokelat yang legit itu. Namun perut kami sudah kenyang menyantap suki plus irisan kue keranjang.

Di rumah Sansan sudah ramai dengan banyak orang. Sansan menyambut kami dengan hangat. Didit bertanya barongsainya mana. Kata Sansan sebentar lagi. Aku memberikan bungkusan dari Tante Yuan. Sansan senang sekali. Hari ini perutku akan sangat kekenyangan, candanya, ketika kuberitahu apa isinya. Ia mengajak kami menemui keluarganya.

Gong xi fa cai. Seruku sambil mengepal-ngepalkan kedua tangan pada keluarga besar Sansan yang disambut mereka dengan cara serupa. Didit ikut meniru gerakan lenganku dengan kaku, maklum ia tak terbiasa. Sansan menunjukkan bingkisan dari keluargaku pada mamanya. Tante Susan senang sekali menerimanya. Kami sama-sama takjub pada bentuk blackforest buatan Tante Yuan, ada hiasan naganya loh, dari cokelat dan diberi pewarna makanan merah. Oh, Tante Yuan kan chef di hotel bintang lima jadi jago mengolah makanan apa saja. Tak heran Didit lebih gendut dikit daripadaku, hehe. Ia pencinta berat masakan Tante Yuan.

Opa Sansan mendekati kami, ia menyelipkan sesuatu ke tangan kami. “Angpau untuk anak-anak yang baik!” Didit girang sekali. Aku sih masih jaim padahal senangnya bukan main, hehe. Kami sama-sama mengucapkan terima kasih. Sansan mengajak kami makan yang ditolak kami dengan alasan sudah kenyang. Kami lalu mengobrol banyak tentang Imlek yang kata Papa Sansan merupakan tradisi asli dari negeri leluhurnya, nun di Cina sana. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (zhêng yuè) penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh saat bulan purnama. Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chŭxĩ yang berarti malam pergantian tahun baru.

Wah, pusing juga karena tak biasa ya? Untung Papa Sansan baik. Katanya bisa dicari di google kalau berminat menelusurinya, hehe.

Di luar terdengar suara ribut-ribut. Didit yang sedari tadi gelisah menunggu barongsai langsung melonjak senang.

“Mari  kita keluar,” ajak Papa Sansan. Bersama kami beriringan menonton atraksi barongsai yang sebentar lagi akan dimulai. Semua keluarga besar Sansan berkumpul di rumah ini karena Papa Sansan merupakan anak sulung dan Opa-Omanya tinggal serumah. Sesuai tradisi, yang muda mengunjungi yang lebih tua. Sama seperti tradisi lebaran kami, ada bedug namun tak ada barongsai, hehe. Sungguh, hari begitu cerah bagi kami. Suara tambur bertalu-talu, diiringi rentetan petasan. Wah, ramai sekali! apalagi naga barongsainya mulai meliuk. Aku menepuk bahu Sansan hangat.***

Limbangan, Garut, 30 januari 2012    

Negara Limun

Cerpen Anak

 

Negara Limun

Oleh Rohyati Sofjan

 

 

A

 

ku mengenal Pak Joko sebagai tetangga yang baik. Ia jualan mie tek-tek di halaman rumahnya dari sore sampai malam. Ibu bilang Pak Joko tidak jualan keliling karena cape. Kadang-kadang aku beli mie tek-teknya, entah rebus atau goreng, rasanya enak. Selain mie biasa, Pak Joko juga melayani pembeli yang ingin mie tek-tek goreng campur nasi yang dibawanya sendiri. Tapi biasanya aku lebih suka mie tek-tek yang direbus, kuahnya berasa nikmat dengan taburan ayam, bawang goreng, dan merica bubuk.

Pak Joko gendut, perutnya buncit seperti ibu-ibu hamil. Sosoknya juga besar. Mungkin karena obesitasnya itu ia tak kuat jualan keliling, padahal aku yakin ia bisa lebih makmur jika jualan mienya ngider, soalnya meski ada yang beli tapi tak sampai laris manis. Paling tetangga sekitar sampai RW lain di gang kami.

Suatu pagi, aku lewat depan rumah Pak Joko, sekalian hendak main dengan Mia anaknya yang sebayaku. Ini Minggu pagi yang menyenangkan, dan aku heran melihat teman-temanku sedang merubung di depan rumah Pak Joko. O, ternyata Pak Joko ngewarung kecil-kecilan di atas meja yang biasa digunakan sebagai tempat memotong kol untuk mie tek-teknya.

Mia tak kulihat. Teman-temanku asyik jajan. Ada banyak jajanan. Pisang goreng, bala-bala, gehu pedas, cireng, cilok, basreng, kerupuk, makaroni goreng, juga sirop selain minuman dingin. Dan jenis jajanan lainnya yang tak kuperhatikan, yang jelas tak sebanyak warung Ceu Asih. Tapi sepertinya Pak Joko ingin meningkatkan taraf hidupnya agar lebih baik.

Pak Joko menyambutku hangat. “Ayo, mau jajan apa, Ika?”

Aku bengong. “Mia ada?” Aku sungguh tak berpikir untuk jajan, sebelumnya.

“Mia lagi keluar, nanti akan kembali. Mau jajan? Ayo, jangan sungkan!” kata Pak Joko ramah.

Aku mendekati meja Pak Joko dan tersenyum. Kulihat Heri sedang asyik menyedot limun dari stick-nya, itu buat es yang belum dibekukan. Pak Joko tak punya kulkas seperti warung Ceu Asih yang lebih lengkap.

“Mau?” tawar Heri. Aku menggeleng. Ia lebih kecil daripadaku tapi kukenal sebagai anak yang tak pelit berbagi hingga Heri disukai kami.

“Ini limun Jepang,” kata Heri sambil menunjuk limunnya yang berwarna kuning dan masih terisi separuh. Aku tertawa. Pagi-pagi aku tak ingin minum limun seperti Heri dan anak lelaki lainnya, aku memilih gehu pedas gopean satu dan membayarnya. Aku duduk di samping Heri sambil mengunyah gehuku setelah sebelumnya menawarkan pada yang lain.

“Kenapa kamu tadi bilang limun Jepang segala, Ri?” tanyaku iseng.

“Tanya Pak Joko, tuh.” Heri malah menunjuk Pak Joko yang menoleh ke arah kami. Pak Joko mengacungkan jempol, lalu mengambil bungkusan isi limun yang berwarna-warni.

“Yang kuning negara Cina, hijau Amerika, oranye Belanda, ungu Jerman, putih Jepang, merah Indonesia.” Kata Pak Joko lucu. Kami semua tertawa.

Diam-diam aku kagum pada Pak Joko, ia kaya imajinasi, mengibaratkan limun sebagai “negaranya”. Sebagai pedagang ia rupanya kreatif, mencoba melengkapi kekurangan dengan keramahan dan obrolan menyenangkan agar kami betah jajan di sana.

Omong-omong, mengapa merah harus Indonesia?***

Teman untuk Filo

Teman untuk Filo

Cerpen Rohyati Sofjan

 

Setiap melihat ikan yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara memasaknya dengan benar agar enak dimakan. Goreng, bakar atau rebus, bergantung jenis ikannya. Mamaku selalu masak ikan dan aku dengan senang ikut membantu jika sempat. Toh, sebagai anak tunggal ikan itu hanya untukku, dalam artian aku akan mengambil porsi lebih besar daripada mama atau papa, hehe. Tak ada yang protes itulah untungnya jadi anak tunggal, kau tak perlu rebutan.

Dan aku mengernyit mengamati mainan baru Anna. Aquarium mini berbentuk toples itu ternyata berisi makhluk hitam mini dengan ekor spiral yang meliuk-liuk. “Kau menelefonku ke sini hanya untuk menonton kecebong?!” seruku tak bisa menahan tawa. Di telefon tadi dengan antusias Anna bilang bahwa ia punya ikan peliharaan, dan aku berharap bahwa ikannya jenis yang bisa dimakan agar jika mati karena salah urus tak mubazir. Namun yang ini, ya ampun! Aku tenggelam dalam tawaku mengabaikan ekspresi Anna yang bingung.

“Apa katamu tadi, Fi?”

“Kecebong!” seruku menikmati gema dari namanya. Yang jelas ini bukan kece, bong! Alias cakep, dan bong itu kata seru bikinanku sendiri, hehe.

“Tapi kata David tadi ini ikan spesial.” Anna tak terima.

Alisku bertaut, jadi David the menace itu tak kapok untuk menjaili Anna yang lembut dan penakut setelah peristiwa tempo hari? Anak itu 3 atau 4 tahun lebih tua daripada kami, namun badungnya sangat mengerikan bagi anak-anak sampai orang dewasa. Kami menjulukinya David The Bullying alias David si penggencet. Ia tak segan mengganggu siapa saja, memeras anak lain agar menyerahkan miliknya, mencuri buah dari pohon tetangga, sampai memancing di empang milik orang. Pokoknya segala hal kenakalan yang bisa membuat anak perempuan atau lelaki menangis, apalagi David punya geng yang kusebut gerombolan si berat. Huah, kecil-kecil sudah jadi kepala bandit….

“Jadi ini dari David?”

Anna mengangguk lesu. Kupikir setelah ancamanku pada David tempo hari lalu untuk tidak mengganggu kami atau siapa saja dengan hampir mematahkan hidungnya tepat di depan gerombolan si berat yang bengong melihat bosnya dikalahkan seorang anak perempuan, akan membuatnya kapok. Sekarang ia mau apa? Membuat lelucon bahwa ikannya merupakan hadiah permintaan maaf karena telah merebut dan melemparkan bungkusan ikan mas koki Anna yang baru dibelinya waktu itu? Aku kesal.

“Yuk, kita ke sana!” Aku mengangkat aquarium dengan hati-hati.

“Ke mana?” tanya Anna bingung.

“Ke rumah David!”

T

 

ernyata tidak sulit mencari David. Ia sedang bengong di kursi teras rumahnya yang besar dan megah. Satpam membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk dengan ramah. David seakan tidak mendengar langkah kami. Hingga aku yang tidak sabaran merasa harus membentaknya. “David!”

David tersentak seolah ia barusan tidur dengan mata terbuka. “Eh, Fi…”

“Katakan apa maksudmu memberi kecebong pada Anna sebagai ganti ikan mas kokinya yang mati kau lemparkan ke aspal?” aku marah karena teringat kejadian kala sedang melintas dengan sepeda lipatku tahu-tahu ada ikan terbang dan mendarat tepat di depan roda depan hingga aku melindasnya. Aku jatuh dengan gusar dan sedih karena telah menabrak ikan mas koki tak berdosa hingga mati. Dan saat aku berusaha mencari sumber siapa biang kerok yang sembarangan main lempar ikan, ternyata David dan gerombolannya sedang mengganggu Anna tak jauh dari tempatku.

Waktu itu Anna menangis sambil memegang erat-erat aquarium kecilnya agar tak dirampas David yang mendesak. Aku tak tinggal diam dan secepat kilat bersama sepedaku menabrak David agar menjauh dari Anna. David tentu saja marah dan tak terima, sebelum ia memerintahkan gerombolannya bertindak aku sudah memukul hidung David hingga terjengkang. Oh, sekadar info aku ikut karate di sekolahku dan sering mengikuti kejurnas antar sekolah. David tentu saja tercengang karena ia dikalahkan anak SD kelas V. Dan aku mengancamnya agar ia tak mengganggu Anna lagi atau akan menanggung akibat yang lebih parah nantinya. Juga harus mengganti ikan mas koki yang dilemparkannya. Perhatikan, ikan mas koki dan aku tak pernah salah bilang kecebong atau berudu alias anak katak!  

Dan kini, di sore yang berangin ini aku (juga Anna) ingin tahu apa maksud David memberi Anna kecebong.

David berdiri, ia lebih tinggi daripada kami. Tentu saja karena ia sudah SMP. Aku mendongak waspada. “Namanya Filo,” gumam David pelan.

Aku tak bereaksi. Sebaliknya Anna malah berkata dengan nada lembut, “Kecebong yang kau berikan itu bernama Filo?”

David mengangguk mantap. Aku ingin terbahak. Filo, agak miriplah dengan ikan giru kecil bernama Nemo dalam film kartun Finding Nemo. Apa David doyan ikan?

“Aku ingin seperti Filo, Fi.”

“Kau ingin seperti kecebong,” aku tak tahan untuk mengejek. Namun David hanya tersenyum.

“Ya, katakanlah secara filosofis, Fi.”

Giliran aku yang bingung.

“Papamu,” lanjut David. “Kemarin ia datang lagi ke sini. Semula aku takut ia akan memarahiku karena soal ikan yang mungkin kau adukan. Sebaliknya ia malah mengajakku ngobrol banyak hal tentang kehidupan.”

Aku diam. Setelah menghajar David dan mengantar Anna pulang ke rumahnya, aku mengadu pada Papa tentang ulah David yang kali ini sangat keterlaluan. Papa yang murah hati hanya diam. Aku kesal karena Papa diam saja. Apa iya bisa mengubah si menace itu jadi manis dengan menyogoknya buah rambutan doang?

Dulu, ketika masih kecil aku memergoki David dan gerombolannya mencuri buah rambutan di pekarangan dengan cara menggunakan galah panjang. Aku mengadu pada Papa, tapi Papa hanya tersenyum. Ia mengambil galah dan memetik banyak sekali rambutan. Menyuruhku membantunya mengumpulkan di keresek besar. Dan Papa mengajakku ikut. Apa yang dilakukannya membuatku tercengang. Papa mengajakku ke rumah David hanya untuk mengantarkan rambutan itu. Kami bahkan harus menunggu di teras sampai David pulang dan menerima bagian rambutannya. Kedua orang tua David selalu sibuk dan jarang di rumah. David sepertiku merupakan anak tunggal. Bedanya aku dibesarkan dalam keluarga yang harmonis.

“Untuk David dan teman-teman,” kata Papa ramah. “Kalau ingin rambutan jangan sungkan datang ke rumah, dengan senang hati Om dan dik Sofia akan berbagi. Ada banyak kok.”

David waktu itu malu, menerima rambutannya dengan ucapan terima kasih yang lirih. Sejak saat itu David dan gengnya tak pernah mengganggu pohon rambutan kami kala berbuah, tidak juga menjadikanku sasaran untuk digencet. Ia seperti segan pada Papa dan aku. Namun setiap musim rambutan Papa akan datang ke rumah David dengan membawa sekeresek besar rambutan untuk dibagikan pada teman-temannya juga. Aku mau tak mau menemani Papa sebab Papa bilang ia ingin melatihku agar mau berbagi pada yang membutuhkan. Aku tidak keberatan berbagi, namun mengapa harus pada si bandit kecil itu, kesalku. Papa hanya tersenyum. Berbuat kebaikan jangan lihat orangnya tapi konteksnya, Sofia, kata Papa waktu itu. Aduh, Papa suka bicara dengan gaya bahasa berat yang sulit dicerna anak kecil. Apa semua orang dewasa memang rumit? Tapi bagaimana jika aku dewasa akankah ikut bergaya bicara rumit kayak Papa? David dan gengnya pernah diundang Papa untuk pesta rambutan namun tak nongol. Jadi Papa memilih mengantarkan rambutannya dari dulu sampai sekarang.

Jadi, apa yang dilakukan Papa sampai David ngomong Filo segala?

David seolah bisa membaca raut wajahku yang berkerut. “Selama ini aku hanya mengacau saja, Fi. Aku minta maaf. Juga terutama pada Anna.” David memandang kami bergantian.

“Tentu kamu tahu bagaimana katak bermetamorfosis, dari telur-berudu kecil-berudu besar-anak katak-lalu katak, jika aku tidak salah urai,” kata David. Aduh, pelajaran itu sih sudah kupahami benar dari acara TV juga. Namun Anna belum pernah melihat kecebong secara langsung seumur hidupnya.

“Aku tak mau selamanya jadi bandit,” David sepertinya tertohok dengan ucapanku tentang julukannya tempo hari lalu.

Aku tak bisa menahan senyumku padahal seumur hidup aku tak pernah tersenyum pada David. “Lalu?”

“Mungkin aku butuh teman seperti Filo, teman yang tulus dan berani meluruskan yang salah.” Suara David mengambang serak di udara sore yang kali ini hangat. Aku dan Anna saling berpandangan dan mengangguk.

“Ide bagus,” kataku. “Kita bisa jadi teman Filo dan melihat ia tumbuh alami mengikuti hukum alam, sepakat?” Aku memandang David dan Anna bergantian. Wajah David yang murung berubah ceria. Anna seperti lega, sepertinya kisah the menace tamat. Ya, semoga David jadi anak yang baik. Betapa mengerikannya bagi sebagian besar anak untuk hidup di bawah kendali orang lain berupa digencet. Semoga David benar-benar sadar.

Bertiga, kami mengamati Filo berenang bebas dalam kolamnya. Mungkin suatu saat ia akan melompati tepi aquarium sebagai katak yang merdeka.***