Lagu Murung dan Bagi Raudal Tanjung Banua

Sajak-sajak
Rohyati Sofjan

Sabtu, 4 April 2009

  Lagu Murung Cuaca mendung, mungkin seperti inilah lagu murung. Kabut pekat keabuan, langit gelap, kilat dan guntur. Desing angin, daun gugur, jalanan lengang dan hening. Juga rintik hujan yang seketika menderas dalam kilau jutaan kubik air, mengguyur serentak dari udara, jatuh begitu saja. Membasahi atap, ditampung talang lalu tumpah ke trotoar, membentuk genangan. Lalu apa arti lagu murung? Bukankah selain hujan atau langit mendung, hidup ini mestinya berirama atau bewarna. Tidak melulu kelabu. Seperti cat warna- warni melabur bendawi, atau pelangi di ujung bumi. Andai kudengar Chopin yang mendongeng tentang hujan dalam orkestra kamar, sudah tentu aku akan kuyup kedinginan dan tenggelam dalam kepedihan. Namun Bach, kata seseorang, menghentak dan bersemangat. Atau aku lebih suka berjingkrak dalam irama salsa, melupa apa yang ingin kulupa dan bergembira. Tidak, aku lebih suka merenung, sendirian. Tak ada musik di sekitar. Apalagi Chopin, Bach, atau Ricky Martin. Kuhabiskan detik jam untuk berlalu begitu saja. Entah apa yang berdenting, gitar atau jam dinding. Atau hanya gema yang memantul dalam ruang kosong yang kuhuni ditemani sepi. Segalanya serba sunyi. Bandung, 13 April 2000 Bagi Raudal Tanjung Banua /Yogya, 27 Mei 2006 I Aku ngungun di punggung gunung. Merindukan gelombang laut bergulung hutan bakau dan hamparan nyiur udara asin, angin kering kesiur. Langit telah lama memahat warna. Merah, jingga, hitam, biru, ungu, atau kelabu. Ada rahasia kadang luput terbaca pada saat itu kau hanya bisa termangu. II Di atas bufet tua, televisi usang berkisah tentang musibah, pesta-pora, sampai silsilah perkibulan. Lalu tiba di bagian kota persemayaman. Merapi terjaga dari gerah dan mulai marah. III Lelehan lava pijar begitu indah. Awan panas mengirim cemas. Aku gelisah menanti detik-detik hari. Tanpa tahu pasti nasib para pengungsi juga sekian orang yang kusayangi. IV Semalam aku merindukan seseorang. Berandai kami memasuki gerbang perkawinan. Menghayati rotasi bumi di kota kelahiran yang ia cintai, yang ingin belajar kucintai. Barangkali itulah harapan sebelum petaka sebab esok paginya bumi menggeram. Ribuan jiwa dan hunian sontak lantak tanpa kuasa mengenal tolak. V Aku kehilangan rasa. Tak tahu bagaimana cara berduka. Tak tahu kabar kawan-kawan di sanasampai orang asing lainnya. Tak tahu bagaimana pula kau beserta keluarga. Tak tahu bagaimana lelaki yang kuharapkan sebagai takdir bagi rahim dan qowwam. Aku menyesal kehilangan kabar. Tak ada warnet, ponsel, apalagi koran. VI Aku ngungun di punggung gunung. Mencium aroma kubur yang harum. Merindukan jabat hangat persahabatan dari iringan peziarah yang melambai. Namun yang ada hanya sawah ladang dan lembah; dikepung pegunungan subur. Udara purba, angin basah kesiur menghanyutkan sisa umur. VII Pada akhirnya aku paham pulasan lain dari warna langit yang kukenal. Namun rahasia masih juga luput kubaca. Pada saat itu aku hanya bisa termangu saja. VIII Telah tibakah kau di batas cakrawala maut. Ketika takdir dan selembar nyawa saling pagut. Apakah kala hidup kita taqarrub atau termasuk ujub? IX Innalillahi wa innailahi rojiun. Segala amsal hidup mengajarkan makna penyerahan pada Sang Maha Penggenggam. Masih adakah berkas iman yang mengenal sabar. Wa likulli ummatin ajalun fa idzaa jaa'a ajaluhum la yastaakhiruuna saa'atan wa la yastaqdimuuna. (Al Araf: 34) Benar, tiap umat punya batas waktu yang ditetapkan. Seperti juga mereka dan kau dan aku suatu ketika harus pulang pada asal sebab kita tak berhak mengundurkan apalagi memajukan ajal. Namun siapkah akan bekal? Limbangan, 2 Juni 2006 
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=223932

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: