Surat dalam Hujan

Surat Dalam Hujan
Cerpen: Rohyati Sofjan

Sabtu, 8 Nopember 2008
HUJAN. Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti.
Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan.Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis.Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah Mas Herwan FR atau Agus Kresna, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.Aku kesepian. Apa yang kulakukan. Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun.Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori?Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi, cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat, buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu.Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional. Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu.Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad?Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia?Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan?Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi. Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja.Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 – 21.20 WIB, Dewa 19 – Terbaik-terbaik.Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya!Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu tersebut, dan membiarkan Terbaik-terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis, bukan?Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam puisi Meja Kayu yang kembali muram-surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat menyukai musik klasik selain country.Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan.Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapai puncak Mahameru sementara saudara-saudaranya satu per satu berguguran. Kamu tahu artinya, kan? Aku lupa penggalan kisah ini dari komik wayang R.A. Kosasih atau majalah Ananda — yang pernah kita baca waktu kanak-kanak dulu, meski mungkin dalam dimensi yang berbeda.Sudahlah, setidaknya aku bisa tahu minatmu, dan kamu tahu minatku.Aku tak tahu banyak tentang musik, padahal kamu pasti asyik sendiri dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yang barusan dimuat koran, kamu menulis soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison? Itu mengingatkanku pada Abuy teman SMU-ku yang sangat mengidolakan mereka dan senang cerita soal itu padaku, seolah merekalah yang bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan.Lucu, adakah orang tuli yang begitu besar rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tahu lebih banyak tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan, Gibran, Cummings, Malna, sampai Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu?Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak.Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah?Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan.Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia?Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar. Atau perpaduan perempuan mana yang pernah kau kenal.Hujan.***

Biodata Penulis
Rohyati Sofjan
lahir di Bandung, 3 November 1975. Sebagian karya proses kreatifnya berupa cerpen dan puisi tersebar antara lain di Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Galamedia, Republika dan Jawa Pos.

Kini berdomisili di sudut kampung suatu lereng gunung di Limbangan Garut, Jawa Barat. Alamat rumah: Desa Ciwangi, Kp Cipeujeuh, RT 5/RW 2, No 395, Limbangan, Garut, 44186.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=213434


Lagu Murung dan Bagi Raudal Tanjung Banua

Sajak-sajak
Rohyati Sofjan

Sabtu, 4 April 2009

  Lagu Murung Cuaca mendung, mungkin seperti inilah lagu murung. Kabut pekat keabuan, langit gelap, kilat dan guntur. Desing angin, daun gugur, jalanan lengang dan hening. Juga rintik hujan yang seketika menderas dalam kilau jutaan kubik air, mengguyur serentak dari udara, jatuh begitu saja. Membasahi atap, ditampung talang lalu tumpah ke trotoar, membentuk genangan. Lalu apa arti lagu murung? Bukankah selain hujan atau langit mendung, hidup ini mestinya berirama atau bewarna. Tidak melulu kelabu. Seperti cat warna- warni melabur bendawi, atau pelangi di ujung bumi. Andai kudengar Chopin yang mendongeng tentang hujan dalam orkestra kamar, sudah tentu aku akan kuyup kedinginan dan tenggelam dalam kepedihan. Namun Bach, kata seseorang, menghentak dan bersemangat. Atau aku lebih suka berjingkrak dalam irama salsa, melupa apa yang ingin kulupa dan bergembira. Tidak, aku lebih suka merenung, sendirian. Tak ada musik di sekitar. Apalagi Chopin, Bach, atau Ricky Martin. Kuhabiskan detik jam untuk berlalu begitu saja. Entah apa yang berdenting, gitar atau jam dinding. Atau hanya gema yang memantul dalam ruang kosong yang kuhuni ditemani sepi. Segalanya serba sunyi. Bandung, 13 April 2000 Bagi Raudal Tanjung Banua /Yogya, 27 Mei 2006 I Aku ngungun di punggung gunung. Merindukan gelombang laut bergulung hutan bakau dan hamparan nyiur udara asin, angin kering kesiur. Langit telah lama memahat warna. Merah, jingga, hitam, biru, ungu, atau kelabu. Ada rahasia kadang luput terbaca pada saat itu kau hanya bisa termangu. II Di atas bufet tua, televisi usang berkisah tentang musibah, pesta-pora, sampai silsilah perkibulan. Lalu tiba di bagian kota persemayaman. Merapi terjaga dari gerah dan mulai marah. III Lelehan lava pijar begitu indah. Awan panas mengirim cemas. Aku gelisah menanti detik-detik hari. Tanpa tahu pasti nasib para pengungsi juga sekian orang yang kusayangi. IV Semalam aku merindukan seseorang. Berandai kami memasuki gerbang perkawinan. Menghayati rotasi bumi di kota kelahiran yang ia cintai, yang ingin belajar kucintai. Barangkali itulah harapan sebelum petaka sebab esok paginya bumi menggeram. Ribuan jiwa dan hunian sontak lantak tanpa kuasa mengenal tolak. V Aku kehilangan rasa. Tak tahu bagaimana cara berduka. Tak tahu kabar kawan-kawan di sanasampai orang asing lainnya. Tak tahu bagaimana pula kau beserta keluarga. Tak tahu bagaimana lelaki yang kuharapkan sebagai takdir bagi rahim dan qowwam. Aku menyesal kehilangan kabar. Tak ada warnet, ponsel, apalagi koran. VI Aku ngungun di punggung gunung. Mencium aroma kubur yang harum. Merindukan jabat hangat persahabatan dari iringan peziarah yang melambai. Namun yang ada hanya sawah ladang dan lembah; dikepung pegunungan subur. Udara purba, angin basah kesiur menghanyutkan sisa umur. VII Pada akhirnya aku paham pulasan lain dari warna langit yang kukenal. Namun rahasia masih juga luput kubaca. Pada saat itu aku hanya bisa termangu saja. VIII Telah tibakah kau di batas cakrawala maut. Ketika takdir dan selembar nyawa saling pagut. Apakah kala hidup kita taqarrub atau termasuk ujub? IX Innalillahi wa innailahi rojiun. Segala amsal hidup mengajarkan makna penyerahan pada Sang Maha Penggenggam. Masih adakah berkas iman yang mengenal sabar. Wa likulli ummatin ajalun fa idzaa jaa'a ajaluhum la yastaakhiruuna saa'atan wa la yastaqdimuuna. (Al Araf: 34) Benar, tiap umat punya batas waktu yang ditetapkan. Seperti juga mereka dan kau dan aku suatu ketika harus pulang pada asal sebab kita tak berhak mengundurkan apalagi memajukan ajal. Namun siapkah akan bekal? Limbangan, 2 Juni 2006 
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=223932

Berapa Lama

Berapa Lama

 

Berapa lama aku hidup mengambang

dalam dusta tak berketepian.

Ketika kehidupan, seketika kembali stagnan.

Hanya karena makhluk berwujud

tak terbentuk, yang disebut puisi

mengejekku untuk mencapai tepian

yang tak kesampaian.

 

Bandung, 25 September 2002 

 

Di Negeri Ingar Bingar, Aku: Sunyi

Di Negeri Ingar-Bingar

Aku: Sunyi

 

Kureka-reka suatu cerita dalam kepala.

Ketika kata-kata di sekitarku menenggelamkan

peradaban diam, dan bunyi menghantam

kesunyian.

 

“Tak ada lagi kawan yang kau kenal

selain diri sendiri, kawan sejati

yang selalu menyisakan ruang monolog

dalam batin. Kala kesepian menikam

dan mengucurkan luka untuk kau reguk

bagi dahaga akan jiwa yang terkadang

butuh juga nelangsa, agar tahu apa arti

bahagia.”

 

Bandung, 4 Februari 2002

 

Keanan, Ketika Puisi Belum Mati dan Kita Masih Punya Mimpi

Keanan, Ketika Puisi Belum Mati

Dan Kita Masih Punya Mimpi

 

Maka aku mencintai puisi, hanya karena kutemukan

dunia yang tak terduga; lebih dari sekadar serakan

kata-kata. Lantas dari kesederhanaan puisimu

yang penuh ironi, kutemukan garis imaji

seorang lelaki yang menjelma puisi

untuk kutelusuri. Lebih dari sekadar malam

di mana kita berlima menyusuri kelengangan trotoar

di sepanjang Braga, dalam naungan langit

tak berbintang. Sembari berbagi arti kebersamaan

dari kekosongan, dialun derum kendaraan

yang menyayupkan percakapan.

 

Bagaimana kita yang pada mulanya tak saling

kenal, tiba-tiba dipertemukan tangan takdir

untuk menjadikan hidup sebagai galaksi

tak terbatas, agar puisi senantiasa

bebas melintas.

 

Bandung, 21 September 2002

 

Akva, Ketika Hidup Sama dengan Pusaran Ketakterdugaan

Akva, Ketika Hidup Sama dengan

Pusaran Ketakterdugaan

 

Mungkin telah kuputuskan pada hari di mana engkau

tak ingin aku lagi untuk berbagi sebagai kawan.

Maka kita sepakat menjelma rival.

Mengembuskan puisi sebagai angin

bagi hidup kita yang badai.

Meski terkadang kita jalani hari-hari panjang

yang stagnan dan tak bertujuan.

 

Bandung, 2001

Di Stasiun Godot yang Sunyi, Aku Menunggu Hidup Berupa Puisi

Di Stasiun Godot yang Sunyi,

Aku Menunggu Hidup Berupa Puisi

 

Sebab telah kupilih jalan sebagai penyair

Maka aku harus berani berharap agar hidup

Bisa lebih baik esok nanti atau kapan saja

Meski terkadang kujalani hari-hari panjang

Yang stagnan dan tak bertujuan.

 

Bandung, 10 Januari 2002