Negara Limun

Cerpen Anak

 

Negara Limun

Oleh Rohyati Sofjan

 

 

A

 

ku mengenal Pak Joko sebagai tetangga yang baik. Ia jualan mie tek-tek di halaman rumahnya dari sore sampai malam. Ibu bilang Pak Joko tidak jualan keliling karena cape. Kadang-kadang aku beli mie tek-teknya, entah rebus atau goreng, rasanya enak. Selain mie biasa, Pak Joko juga melayani pembeli yang ingin mie tek-tek goreng campur nasi yang dibawanya sendiri. Tapi biasanya aku lebih suka mie tek-tek yang direbus, kuahnya berasa nikmat dengan taburan ayam, bawang goreng, dan merica bubuk.

Pak Joko gendut, perutnya buncit seperti ibu-ibu hamil. Sosoknya juga besar. Mungkin karena obesitasnya itu ia tak kuat jualan keliling, padahal aku yakin ia bisa lebih makmur jika jualan mienya ngider, soalnya meski ada yang beli tapi tak sampai laris manis. Paling tetangga sekitar sampai RW lain di gang kami.

Suatu pagi, aku lewat depan rumah Pak Joko, sekalian hendak main dengan Mia anaknya yang sebayaku. Ini Minggu pagi yang menyenangkan, dan aku heran melihat teman-temanku sedang merubung di depan rumah Pak Joko. O, ternyata Pak Joko ngewarung kecil-kecilan di atas meja yang biasa digunakan sebagai tempat memotong kol untuk mie tek-teknya.

Mia tak kulihat. Teman-temanku asyik jajan. Ada banyak jajanan. Pisang goreng, bala-bala, gehu pedas, cireng, cilok, basreng, kerupuk, makaroni goreng, juga sirop selain minuman dingin. Dan jenis jajanan lainnya yang tak kuperhatikan, yang jelas tak sebanyak warung Ceu Asih. Tapi sepertinya Pak Joko ingin meningkatkan taraf hidupnya agar lebih baik.

Pak Joko menyambutku hangat. “Ayo, mau jajan apa, Ika?”

Aku bengong. “Mia ada?” Aku sungguh tak berpikir untuk jajan, sebelumnya.

“Mia lagi keluar, nanti akan kembali. Mau jajan? Ayo, jangan sungkan!” kata Pak Joko ramah.

Aku mendekati meja Pak Joko dan tersenyum. Kulihat Heri sedang asyik menyedot limun dari stick-nya, itu buat es yang belum dibekukan. Pak Joko tak punya kulkas seperti warung Ceu Asih yang lebih lengkap.

“Mau?” tawar Heri. Aku menggeleng. Ia lebih kecil daripadaku tapi kukenal sebagai anak yang tak pelit berbagi hingga Heri disukai kami.

“Ini limun Jepang,” kata Heri sambil menunjuk limunnya yang berwarna kuning dan masih terisi separuh. Aku tertawa. Pagi-pagi aku tak ingin minum limun seperti Heri dan anak lelaki lainnya, aku memilih gehu pedas gopean satu dan membayarnya. Aku duduk di samping Heri sambil mengunyah gehuku setelah sebelumnya menawarkan pada yang lain.

“Kenapa kamu tadi bilang limun Jepang segala, Ri?” tanyaku iseng.

“Tanya Pak Joko, tuh.” Heri malah menunjuk Pak Joko yang menoleh ke arah kami. Pak Joko mengacungkan jempol, lalu mengambil bungkusan isi limun yang berwarna-warni.

“Yang kuning negara Cina, hijau Amerika, oranye Belanda, ungu Jerman, putih Jepang, merah Indonesia.” Kata Pak Joko lucu. Kami semua tertawa.

Diam-diam aku kagum pada Pak Joko, ia kaya imajinasi, mengibaratkan limun sebagai “negaranya”. Sebagai pedagang ia rupanya kreatif, mencoba melengkapi kekurangan dengan keramahan dan obrolan menyenangkan agar kami betah jajan di sana.

Omong-omong, mengapa merah harus Indonesia?***

Teman untuk Filo

Teman untuk Filo

Cerpen Rohyati Sofjan

 

Setiap melihat ikan yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara memasaknya dengan benar agar enak dimakan. Goreng, bakar atau rebus, bergantung jenis ikannya. Mamaku selalu masak ikan dan aku dengan senang ikut membantu jika sempat. Toh, sebagai anak tunggal ikan itu hanya untukku, dalam artian aku akan mengambil porsi lebih besar daripada mama atau papa, hehe. Tak ada yang protes itulah untungnya jadi anak tunggal, kau tak perlu rebutan.

Dan aku mengernyit mengamati mainan baru Anna. Aquarium mini berbentuk toples itu ternyata berisi makhluk hitam mini dengan ekor spiral yang meliuk-liuk. “Kau menelefonku ke sini hanya untuk menonton kecebong?!” seruku tak bisa menahan tawa. Di telefon tadi dengan antusias Anna bilang bahwa ia punya ikan peliharaan, dan aku berharap bahwa ikannya jenis yang bisa dimakan agar jika mati karena salah urus tak mubazir. Namun yang ini, ya ampun! Aku tenggelam dalam tawaku mengabaikan ekspresi Anna yang bingung.

“Apa katamu tadi, Fi?”

“Kecebong!” seruku menikmati gema dari namanya. Yang jelas ini bukan kece, bong! Alias cakep, dan bong itu kata seru bikinanku sendiri, hehe.

“Tapi kata David tadi ini ikan spesial.” Anna tak terima.

Alisku bertaut, jadi David the menace itu tak kapok untuk menjaili Anna yang lembut dan penakut setelah peristiwa tempo hari? Anak itu 3 atau 4 tahun lebih tua daripada kami, namun badungnya sangat mengerikan bagi anak-anak sampai orang dewasa. Kami menjulukinya David The Bullying alias David si penggencet. Ia tak segan mengganggu siapa saja, memeras anak lain agar menyerahkan miliknya, mencuri buah dari pohon tetangga, sampai memancing di empang milik orang. Pokoknya segala hal kenakalan yang bisa membuat anak perempuan atau lelaki menangis, apalagi David punya geng yang kusebut gerombolan si berat. Huah, kecil-kecil sudah jadi kepala bandit….

“Jadi ini dari David?”

Anna mengangguk lesu. Kupikir setelah ancamanku pada David tempo hari lalu untuk tidak mengganggu kami atau siapa saja dengan hampir mematahkan hidungnya tepat di depan gerombolan si berat yang bengong melihat bosnya dikalahkan seorang anak perempuan, akan membuatnya kapok. Sekarang ia mau apa? Membuat lelucon bahwa ikannya merupakan hadiah permintaan maaf karena telah merebut dan melemparkan bungkusan ikan mas koki Anna yang baru dibelinya waktu itu? Aku kesal.

“Yuk, kita ke sana!” Aku mengangkat aquarium dengan hati-hati.

“Ke mana?” tanya Anna bingung.

“Ke rumah David!”

T

 

ernyata tidak sulit mencari David. Ia sedang bengong di kursi teras rumahnya yang besar dan megah. Satpam membukakan gerbang dan mempersilakan kami masuk dengan ramah. David seakan tidak mendengar langkah kami. Hingga aku yang tidak sabaran merasa harus membentaknya. “David!”

David tersentak seolah ia barusan tidur dengan mata terbuka. “Eh, Fi…”

“Katakan apa maksudmu memberi kecebong pada Anna sebagai ganti ikan mas kokinya yang mati kau lemparkan ke aspal?” aku marah karena teringat kejadian kala sedang melintas dengan sepeda lipatku tahu-tahu ada ikan terbang dan mendarat tepat di depan roda depan hingga aku melindasnya. Aku jatuh dengan gusar dan sedih karena telah menabrak ikan mas koki tak berdosa hingga mati. Dan saat aku berusaha mencari sumber siapa biang kerok yang sembarangan main lempar ikan, ternyata David dan gerombolannya sedang mengganggu Anna tak jauh dari tempatku.

Waktu itu Anna menangis sambil memegang erat-erat aquarium kecilnya agar tak dirampas David yang mendesak. Aku tak tinggal diam dan secepat kilat bersama sepedaku menabrak David agar menjauh dari Anna. David tentu saja marah dan tak terima, sebelum ia memerintahkan gerombolannya bertindak aku sudah memukul hidung David hingga terjengkang. Oh, sekadar info aku ikut karate di sekolahku dan sering mengikuti kejurnas antar sekolah. David tentu saja tercengang karena ia dikalahkan anak SD kelas V. Dan aku mengancamnya agar ia tak mengganggu Anna lagi atau akan menanggung akibat yang lebih parah nantinya. Juga harus mengganti ikan mas koki yang dilemparkannya. Perhatikan, ikan mas koki dan aku tak pernah salah bilang kecebong atau berudu alias anak katak!  

Dan kini, di sore yang berangin ini aku (juga Anna) ingin tahu apa maksud David memberi Anna kecebong.

David berdiri, ia lebih tinggi daripada kami. Tentu saja karena ia sudah SMP. Aku mendongak waspada. “Namanya Filo,” gumam David pelan.

Aku tak bereaksi. Sebaliknya Anna malah berkata dengan nada lembut, “Kecebong yang kau berikan itu bernama Filo?”

David mengangguk mantap. Aku ingin terbahak. Filo, agak miriplah dengan ikan giru kecil bernama Nemo dalam film kartun Finding Nemo. Apa David doyan ikan?

“Aku ingin seperti Filo, Fi.”

“Kau ingin seperti kecebong,” aku tak tahan untuk mengejek. Namun David hanya tersenyum.

“Ya, katakanlah secara filosofis, Fi.”

Giliran aku yang bingung.

“Papamu,” lanjut David. “Kemarin ia datang lagi ke sini. Semula aku takut ia akan memarahiku karena soal ikan yang mungkin kau adukan. Sebaliknya ia malah mengajakku ngobrol banyak hal tentang kehidupan.”

Aku diam. Setelah menghajar David dan mengantar Anna pulang ke rumahnya, aku mengadu pada Papa tentang ulah David yang kali ini sangat keterlaluan. Papa yang murah hati hanya diam. Aku kesal karena Papa diam saja. Apa iya bisa mengubah si menace itu jadi manis dengan menyogoknya buah rambutan doang?

Dulu, ketika masih kecil aku memergoki David dan gerombolannya mencuri buah rambutan di pekarangan dengan cara menggunakan galah panjang. Aku mengadu pada Papa, tapi Papa hanya tersenyum. Ia mengambil galah dan memetik banyak sekali rambutan. Menyuruhku membantunya mengumpulkan di keresek besar. Dan Papa mengajakku ikut. Apa yang dilakukannya membuatku tercengang. Papa mengajakku ke rumah David hanya untuk mengantarkan rambutan itu. Kami bahkan harus menunggu di teras sampai David pulang dan menerima bagian rambutannya. Kedua orang tua David selalu sibuk dan jarang di rumah. David sepertiku merupakan anak tunggal. Bedanya aku dibesarkan dalam keluarga yang harmonis.

“Untuk David dan teman-teman,” kata Papa ramah. “Kalau ingin rambutan jangan sungkan datang ke rumah, dengan senang hati Om dan dik Sofia akan berbagi. Ada banyak kok.”

David waktu itu malu, menerima rambutannya dengan ucapan terima kasih yang lirih. Sejak saat itu David dan gengnya tak pernah mengganggu pohon rambutan kami kala berbuah, tidak juga menjadikanku sasaran untuk digencet. Ia seperti segan pada Papa dan aku. Namun setiap musim rambutan Papa akan datang ke rumah David dengan membawa sekeresek besar rambutan untuk dibagikan pada teman-temannya juga. Aku mau tak mau menemani Papa sebab Papa bilang ia ingin melatihku agar mau berbagi pada yang membutuhkan. Aku tidak keberatan berbagi, namun mengapa harus pada si bandit kecil itu, kesalku. Papa hanya tersenyum. Berbuat kebaikan jangan lihat orangnya tapi konteksnya, Sofia, kata Papa waktu itu. Aduh, Papa suka bicara dengan gaya bahasa berat yang sulit dicerna anak kecil. Apa semua orang dewasa memang rumit? Tapi bagaimana jika aku dewasa akankah ikut bergaya bicara rumit kayak Papa? David dan gengnya pernah diundang Papa untuk pesta rambutan namun tak nongol. Jadi Papa memilih mengantarkan rambutannya dari dulu sampai sekarang.

Jadi, apa yang dilakukan Papa sampai David ngomong Filo segala?

David seolah bisa membaca raut wajahku yang berkerut. “Selama ini aku hanya mengacau saja, Fi. Aku minta maaf. Juga terutama pada Anna.” David memandang kami bergantian.

“Tentu kamu tahu bagaimana katak bermetamorfosis, dari telur-berudu kecil-berudu besar-anak katak-lalu katak, jika aku tidak salah urai,” kata David. Aduh, pelajaran itu sih sudah kupahami benar dari acara TV juga. Namun Anna belum pernah melihat kecebong secara langsung seumur hidupnya.

“Aku tak mau selamanya jadi bandit,” David sepertinya tertohok dengan ucapanku tentang julukannya tempo hari lalu.

Aku tak bisa menahan senyumku padahal seumur hidup aku tak pernah tersenyum pada David. “Lalu?”

“Mungkin aku butuh teman seperti Filo, teman yang tulus dan berani meluruskan yang salah.” Suara David mengambang serak di udara sore yang kali ini hangat. Aku dan Anna saling berpandangan dan mengangguk.

“Ide bagus,” kataku. “Kita bisa jadi teman Filo dan melihat ia tumbuh alami mengikuti hukum alam, sepakat?” Aku memandang David dan Anna bergantian. Wajah David yang murung berubah ceria. Anna seperti lega, sepertinya kisah the menace tamat. Ya, semoga David jadi anak yang baik. Betapa mengerikannya bagi sebagian besar anak untuk hidup di bawah kendali orang lain berupa digencet. Semoga David benar-benar sadar.

Bertiga, kami mengamati Filo berenang bebas dalam kolamnya. Mungkin suatu saat ia akan melompati tepi aquarium sebagai katak yang merdeka.***

 

Surat dalam Hujan

Surat Dalam Hujan
Cerpen: Rohyati Sofjan

Sabtu, 8 Nopember 2008
HUJAN. Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti.
Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan.Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis.Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah Mas Herwan FR atau Agus Kresna, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.Aku kesepian. Apa yang kulakukan. Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun.Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori?Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi, cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat, buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu.Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional. Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu.Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad?Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia?Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan?Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi. Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja.Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 – 21.20 WIB, Dewa 19 – Terbaik-terbaik.Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya!Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu tersebut, dan membiarkan Terbaik-terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis, bukan?Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam puisi Meja Kayu yang kembali muram-surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat menyukai musik klasik selain country.Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan.Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapai puncak Mahameru sementara saudara-saudaranya satu per satu berguguran. Kamu tahu artinya, kan? Aku lupa penggalan kisah ini dari komik wayang R.A. Kosasih atau majalah Ananda — yang pernah kita baca waktu kanak-kanak dulu, meski mungkin dalam dimensi yang berbeda.Sudahlah, setidaknya aku bisa tahu minatmu, dan kamu tahu minatku.Aku tak tahu banyak tentang musik, padahal kamu pasti asyik sendiri dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yang barusan dimuat koran, kamu menulis soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison? Itu mengingatkanku pada Abuy teman SMU-ku yang sangat mengidolakan mereka dan senang cerita soal itu padaku, seolah merekalah yang bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan.Lucu, adakah orang tuli yang begitu besar rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tahu lebih banyak tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan, Gibran, Cummings, Malna, sampai Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu?Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak.Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah?Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan.Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia?Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar. Atau perpaduan perempuan mana yang pernah kau kenal.Hujan.***

Biodata Penulis
Rohyati Sofjan
lahir di Bandung, 3 November 1975. Sebagian karya proses kreatifnya berupa cerpen dan puisi tersebar antara lain di Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Galamedia, Republika dan Jawa Pos.

Kini berdomisili di sudut kampung suatu lereng gunung di Limbangan Garut, Jawa Barat. Alamat rumah: Desa Ciwangi, Kp Cipeujeuh, RT 5/RW 2, No 395, Limbangan, Garut, 44186.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=213434


Lagu Murung dan Bagi Raudal Tanjung Banua

Sajak-sajak
Rohyati Sofjan

Sabtu, 4 April 2009

  Lagu Murung Cuaca mendung, mungkin seperti inilah lagu murung. Kabut pekat keabuan, langit gelap, kilat dan guntur. Desing angin, daun gugur, jalanan lengang dan hening. Juga rintik hujan yang seketika menderas dalam kilau jutaan kubik air, mengguyur serentak dari udara, jatuh begitu saja. Membasahi atap, ditampung talang lalu tumpah ke trotoar, membentuk genangan. Lalu apa arti lagu murung? Bukankah selain hujan atau langit mendung, hidup ini mestinya berirama atau bewarna. Tidak melulu kelabu. Seperti cat warna- warni melabur bendawi, atau pelangi di ujung bumi. Andai kudengar Chopin yang mendongeng tentang hujan dalam orkestra kamar, sudah tentu aku akan kuyup kedinginan dan tenggelam dalam kepedihan. Namun Bach, kata seseorang, menghentak dan bersemangat. Atau aku lebih suka berjingkrak dalam irama salsa, melupa apa yang ingin kulupa dan bergembira. Tidak, aku lebih suka merenung, sendirian. Tak ada musik di sekitar. Apalagi Chopin, Bach, atau Ricky Martin. Kuhabiskan detik jam untuk berlalu begitu saja. Entah apa yang berdenting, gitar atau jam dinding. Atau hanya gema yang memantul dalam ruang kosong yang kuhuni ditemani sepi. Segalanya serba sunyi. Bandung, 13 April 2000 Bagi Raudal Tanjung Banua /Yogya, 27 Mei 2006 I Aku ngungun di punggung gunung. Merindukan gelombang laut bergulung hutan bakau dan hamparan nyiur udara asin, angin kering kesiur. Langit telah lama memahat warna. Merah, jingga, hitam, biru, ungu, atau kelabu. Ada rahasia kadang luput terbaca pada saat itu kau hanya bisa termangu. II Di atas bufet tua, televisi usang berkisah tentang musibah, pesta-pora, sampai silsilah perkibulan. Lalu tiba di bagian kota persemayaman. Merapi terjaga dari gerah dan mulai marah. III Lelehan lava pijar begitu indah. Awan panas mengirim cemas. Aku gelisah menanti detik-detik hari. Tanpa tahu pasti nasib para pengungsi juga sekian orang yang kusayangi. IV Semalam aku merindukan seseorang. Berandai kami memasuki gerbang perkawinan. Menghayati rotasi bumi di kota kelahiran yang ia cintai, yang ingin belajar kucintai. Barangkali itulah harapan sebelum petaka sebab esok paginya bumi menggeram. Ribuan jiwa dan hunian sontak lantak tanpa kuasa mengenal tolak. V Aku kehilangan rasa. Tak tahu bagaimana cara berduka. Tak tahu kabar kawan-kawan di sanasampai orang asing lainnya. Tak tahu bagaimana pula kau beserta keluarga. Tak tahu bagaimana lelaki yang kuharapkan sebagai takdir bagi rahim dan qowwam. Aku menyesal kehilangan kabar. Tak ada warnet, ponsel, apalagi koran. VI Aku ngungun di punggung gunung. Mencium aroma kubur yang harum. Merindukan jabat hangat persahabatan dari iringan peziarah yang melambai. Namun yang ada hanya sawah ladang dan lembah; dikepung pegunungan subur. Udara purba, angin basah kesiur menghanyutkan sisa umur. VII Pada akhirnya aku paham pulasan lain dari warna langit yang kukenal. Namun rahasia masih juga luput kubaca. Pada saat itu aku hanya bisa termangu saja. VIII Telah tibakah kau di batas cakrawala maut. Ketika takdir dan selembar nyawa saling pagut. Apakah kala hidup kita taqarrub atau termasuk ujub? IX Innalillahi wa innailahi rojiun. Segala amsal hidup mengajarkan makna penyerahan pada Sang Maha Penggenggam. Masih adakah berkas iman yang mengenal sabar. Wa likulli ummatin ajalun fa idzaa jaa'a ajaluhum la yastaakhiruuna saa'atan wa la yastaqdimuuna. (Al Araf: 34) Benar, tiap umat punya batas waktu yang ditetapkan. Seperti juga mereka dan kau dan aku suatu ketika harus pulang pada asal sebab kita tak berhak mengundurkan apalagi memajukan ajal. Namun siapkah akan bekal? Limbangan, 2 Juni 2006 
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=223932

Berapa Lama

Berapa Lama

 

Berapa lama aku hidup mengambang

dalam dusta tak berketepian.

Ketika kehidupan, seketika kembali stagnan.

Hanya karena makhluk berwujud

tak terbentuk, yang disebut puisi

mengejekku untuk mencapai tepian

yang tak kesampaian.

 

Bandung, 25 September 2002