Memopulerkan Calir

Podium

 

Memopulerkan Calir

Oleh Rohyati Sofjan

 

*Penulis lepas

 

Rasanya saya telah menemukan suatu kata baru yang sepertinya terlewatkan begitu saja dari pembacaan KBBI kemarin-kemarin: calir! Diksi calir pertama kali saya temukan di esai Chairil Anwar, S.Pd., yang menyorot “Problematika Penggunaan Merek Produk”, http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/09/28/problematika-penggunaan-merek-produk/#more-2051.

Saya kembali membuka KBBI 3 dan menemukan makna dari calir itu: nomina (kata benda) sediaan air di kosmetik. Dan ada contoh dari makna kata calir itu dalam KBBI,  calir cukur, calir yang digunakan sebelum bercukur; calir dasar, calir yang digunakan sebagai alas sebelum berbedak; calir jerawat, calir yang digunakan untuk mengobati jerawat; calir pembersih, calir yang digunakan untuk membersihkan wajah; calir raga, calir yang digunakan untuk melembutkan dan memuluskan seluruh badan.

Dari keseluruhan penjelasan itu saya bisa memahami esensi kalimat dari pernyataan Chairil Anwar tentang calir antinyamuk untuk padanan dari penggunaan merek Autan yang kerap diujarkan masyarakat meski tidak sedang memakai merek tersebut.

Tidak heran saya merasa seperti melewatkan sesuatu dari KBBI soalnya calir itu bagi saya sangatlah tidak populer. Padahal kata itu jelas sudah ada dari dulu jika melihat lema di bawah untuk calit cairan atau bubuk yang biasa ditempelkan untuk rias muka seperti celak mata, cat alis, cat bibir, palit. Saya kembali mengembarai halaman KBBI untuk memahami palit yang ternyata alat yang dipakai untuk menyapukan celak mata, cat bibir; atau makna lain untuk cairan atau bubuk yang biasa ditempelkan untuk rias muka seperti celak mata, cat alis, dan cat bibir.

Jika memang calir dan calit sudah ada sebagai kata asli Indonesia mengapa penggunaannya sangatlah tidak populer? Dulu saya sempat berpikir lotion untuk segala macam calir berupa hand body, misalnya, tak ada padanan kata Indonesianya selain losion saja karena setiap merek produk yang selalu diembeli bahasa asing tak pernah menerjemahkan sebagai calir.

Mungkin calir dianggap aneh dan asing bagi telinga sampai lidah masyarakat kebanyakan. Padahal untuk memopulerkan kata yang sebenarrnya sudah ada sejak dari sononya namun tenggelam karena (mungkin) dianggap kurang membawa gengsi produk, dibutuhkan kerjasama antara produsen produk dengan media massa (katakanlah biro iklan juga) agar masyarakat paham punya bahasa yang kaya makna.

Jadi, untuk semua kalangan yang merasa berkepentingan dalam urusan cukur-mencukur kumis atau janggut, entah bapak-bapak, ABG yang baru tumbuh rambut wajahnya, pramuniaga, orang iklan, pemilik merek produk, sampai penulis fiksi yang misalnya membutuhkan padanan kata dari after shave lotion, cukup gunakan kalimat calir sebelum bercukur. Dirasa janggal atau kurang keren? Apa boleh buat, kita masih memiliki mental minder bahkan dalam hal berbahasa sekalipun.

Alangkah indahnya jika setiap produk tak menerjemahkan lotion sebagai losion tetapi calir. Sehingga lidah kita pun lebih fasih untuk bercalir dengan yakin.***

Limbangan, Garut, 26 Oktober 2011

Loji, Badai Petir dan Turbulensi

Podium

Loji, Badai Petir dan Turbulensi

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas, Bermukim di Loji, Bogor

 

 

Z

uhur ini panas. Serombongan sukarelawan suatu partai atau ormas nongkrong di warung nasi Bu Haji seberang rumah kami yang dipisah jalan. Jumat yang tenang di lingkungan sekitar, tidak seperti Kamis siang kemarin kala kendaraan besar dan kecil lalu lalang menuju arah barat. Marinir, PMI, paramedis, pers, pejabat, masyarakat umum, sampai siapa saja berbondong-bondong ke sana.

Sehari sebelumnya, Ai, teman saya di Cianjur SMS, menanyakan apakah rumah saya di Loji dekat Gunung Salak. Saya balas, di lerengnya. Rumah kami sekira 500 meter dari pertigaan jalan raya Cijeruk-Cigombong. Gunung Salak itu besar dan luas sekali. Untuk ke punggungnya makan waktu berjam-jam perjalanan mendaki, apalagi menuju puncak. Saya heran Ai bertanya tentang pesawat Sukhoi yang jatuh. Saya pikir pesawat jatuhnya kasus yang terdahulu. Di rumah kami ini tak ada TV. Saya sedang sibuk mengurus cucian. Ternyata serombongan kendaraan yang beriringan tak putus-putus merupakan jawaban bahwa Sukhoi yang lain jatuh lagi. Dari suami yang sibuk kerja di kebun halaman rumah kami sambil “dibantu” Palung anak kami yang berusia 2,5 tahun, ternyata ada kapal jatuh di gunung.

Saya SMS Pak Tendy K. Somantri, kawan baik, tak ada jawaban. Ternyata jadwal beliau sedang padat seperti biasanya. Dan sepanjang hari itu, berturut-turut ada SMS lagi, dari kakak sepupu di Bandung yang memastikan keadaan kami, sampai keponakan di kampung halaman nun di Cipeujeuh, Limbangan, Garut. Kami baik-baik saja, cuma merasa aneh sejak siang jelang Zuhur sampai Magrib suasana jalan mendadak ramai dan ingar. Itu sesuatu yang wajar dalam kasus kecelakaan. Saya harus berhati-hati menyeberang jalan hanya untuk menuntun Palung main di warung Bu Haji bareng Caca cucu beliau yang usianya 3 tahun.

Saya bersyukur cuaca dari kemarin sampai, semoga, hari ini cerah. Meski Gunung Salak diliput kabut. Semoga evakuasi berjalan Lancar. Semalam Pak Tendy jawab SMS saya tentang korban, “Pesawat Sukhoi buatan Rusia yang dipromosikan di Indonesia untuk pesawat penumpang. Penerbangan ini merupakan uji coba. Wartawan dari majalah Angkasa dan Trans TV yang saya dengar.”  Innalillahi wa innailaihi rojiun. Saya turut berduka cita pada keluarga korban, terutama rekan wartawan. 

“Katanya ini pesawat baru. Bukan bekas. Dan memang layak terbang. Masalahnya mungkin ada turbulensi di daerah Gunung Salak. Sebelumnya pilot diminta untuk mengambil rute Pelabuhan Ratu, tapi entah mengapa dia mengambil jalur gunung.  Itu informasi yang saya peroleh.”

Turbulensi? Saya tercenung. Teringat Senin tanggal 7 Mei, hujan deras selepas Magrib. Disertai angin kencang dan gelegar petir. Baru kali ini selama sebulan lebih di sini, merasakan hujan campur badai petir berturut-turut. Palung sampai bangun dari tidurnya, ketakutan mendengar suara petir yang memekakkan. Saya yang sibuk beres-beres di rumah jadi ngeri melihat betapa benderangnya di luar dengan kilat dan petir bersabung-sabung. Angin menggeser genting hingga bocor. Dari jendela kaca ruang depan yang menghadap timur, dapur, sampai kamar yang menghadap utara dan tak bertirai. Petir itu seolah dekat dengan jendela, seolah sedang berada di luar jalan, mengancam siapa pun yang lewat dan kemalaman terjebak hujan badai.

Akhir-akhir ini, Loji selalu diguyur hujan. Bahkan Selasa, 8 Mei, saya membatalkan niat untuk cuci seprai karena mendung sejak pagi sampai sore meski tak hujan. Tugas itu dikerjakan suami esok harinya, 9 Mei.

Saya cerita soal kejadian hujan badai petir pada Pak Tendy. Menduga turbulensi itu merupakan sisa badai petir di Gunung Salak. Beliau jawab mungkin saja sebab rasanya aneh pesawat yang semula berada di ketinggian 10.000 kaki turun jadi 6.000 kaki. Adakah kaitannya, medan magnet bekas arus listrik atau semacam itu di sekitar gunung yang menarik pesawat jatuh dan hancur, cenung saya seorang pengagum badai petir sekaligus ngeri pada fenomena alamnya.

Sebagai pendatang yang mengadu nasib di Loji, saya mengagumi Gunung Salak. Tidak banyak mitos yang saya tahu karena seumur hidup belum pernah mendaki gunung. Pak Tendy saja belum pernah mendaki Gunung Salak karena kebanyakan di arah timur gunung yang didakinya. Namun kata beliau, dari cerita teman, banyak kejadian misterius dan aneh di sana. Banyak pendaki amatir yang hilang dan meninggal. Dan ada batu licin dan halus seperti sering digunakan terus.

Saya berharap Palung bisa tumbuh dewasa dalam naungan perkasa Gunung Salak. Biarlah gunung itu tak terjamah manusia, tetap rimba raya yang lebat dan angker diselubung mitos. Kehidupan di bawah bisa terancam jika gunung itu tak “menyalak” lagi.

Lepas dari berbagai bencana, seperti pesawat jatuh, mungkin gunung itu sebaiknya dihindari sebagai jalur penerbangan jika cuaca buruk. Siapa tahu masih ada sisa badai ion yang terperangkap di sana dan siap menelan korban.***

Loji, 11 Mei 2012  

* Dimuat di Harian Tribun Jabar, 19 Mei b201

Hikayat Bahasa Populer bagi Penghuni Planet Sunyi

Hikayat Bahasa Populer bagi Penghuni Planet Sunyi

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas

 

K

etika televisi menayangkan iklan penyanyi Lissa dengan lagu “Keong Racun”, Palung, putra saya yang baru berusia beberapa bulan langsung menghentikan aktivitasnya, ia akan duduk manis dan menyimak Lissa sambil menggoyang-goyangkan badan cara bayi. Cara lucu yang kontras dengan Lissa yang goyangnya asoy. Saya tidak mengerti mengapa Palung suka musik dangdut, barangkali iramanya menghentak. Apakah semua bayi suka dangdut? Haha. Beethoven’s Symphony No. 9 yang tersimpan di laptop saya saja kalah heboh dengan Lissa bagi Palung. Namun yang paling tidak saya mengerti adalah judul lagu itu. Keong racun saja dilagukan. Itu tentang fauna atau menu makanan beracun? Itu lintasan pikiran konyol saya, seorang tunarungu yang sering kuper pada hal populer.

Lalu Sule dengan lagu “Prikitiew” membuat saya bengong. Mengingatkan pada piriwitan alias peluit atau (lagi-lagi) menu makanan kwetiau yang seumur hidup belum pernah saya coba dan saya ngiler ingin mencobanya sekarang. Pembaca yang budiman, tertawakan saja lintasan pikiran saya yang dipenuhi keterbatasan. Betapa lugunya seorang penghuni planet sunyi di antara ingarnya dunia yang sarat peristiwa. Sampai bahasa saja menjadi masalah. Masalah yang harus saya atasi dengan mencari tahu artinya agar kekuperan saya berkurang. Atau setidaknya memuaskan rasa penasaran.

Akhirnya, di golodog rumah tetangga, ketika iseng menonton DVD sambil mengasuh Palung yang tertarik pada musik dangdut, saya baru tahu arti keong racun. Adalah Sinta dan Jojo yang bernyanyi tanpa goyang asoy tentang keong racun. Dan saya bengong membaca teks lagunya. Apa kaitan keong racun dengan lelaki hidung belang? Barangkali hidung belang tidak lagi in sebagai kiasan, keong racun lebih dahsyat efek bahasanya. Mengingatkan pada semacam keong yang jalannya lamban, berlendir pula. Ya, hewan jenis molusca itu rupanya bisa merajai blantika musik Indonesia, tidak melulu menghuni kerajaan (kingdom) binatang.

Saya sungguh salut pada kreativisme pengguna bahasa di Indonesia. Keong yang dianggap menjijikkan bagi sebagian orang bisa menjadi stigma bagi lelaki yang doyan piktor, pikiran kotor. Bagaimana bahasa kiasan bisa mengguncang dunia, seperti keong racun. Saking populernya, dalam suatu acara Opera van Java Trans7, ada adegan sinden yang menyanyikan lagu “Keong Racun”, “Dasar keong racun….” Dan Parto berjoget ala Sinta dan Jojo sebagai penari latar.

Yang unik, Sinta dan Jojo mendapat tandingan Beben dan Yayan dengan “Aku Memang Keong Racun”. Ada-ada saja, semacam jawaban bagi dasar keong racun. Lagu itu seakan berbalas pantun.

Palung bisa asyik pada musik apa saja, dan saya bersyukur karena Allah memberinya pendengaran yang baik. Namun ironi dari lagu itu tidak sesuai dengan pemahaman bayi. Suatu saat Palung akan tumbuh besar, dan mungkin akan bertanya, apa itu check in? Dan mungkin saya yang lupa pada lagu “Keong Racun” akan kelabakan menjelaskannya.

Saya pernah mencari di google tentang keong racun. Urutan teratas melulu dipenuhi link tentang lagu “Keong Racun”. Yang paling populer ternyata Sinta dan Jojo. Untuk saat itu pencarian saya terhenti, habis banyak banget, ada 5.920.000. Namun saya penasaran untuk menelusurinya lebih jauh kelak. Adakah keong racun sungguhan yang bukan kiasan? Tentu escargot yang lezat tidak beracun.

Polah manusia sekarang ini selalu disandingkan sebagai binatang. Mungkin keong racun tak sesarkas anjing, babi, dan sebagainya sebagai kiasan yang dimakikan. Namun begitu mengena karena berkaitan dengan, maaf, fungsi reproduksi yang disalahgunakan.

Dan prikitiew, sampai sekarang saya belum tahu artinya. Apakah semacam kata seru atau akronim? Saya tidak tahu. Belum terpikir untuk menghubungi Sule, lewat Facebook, misalnya. Meski di jejaring itu seorang teman pernah menulis di dinding dan ber-prikitiew. Dan kemarin, ketika selancar di beberapa situs, lagi-lagi ada komentar prikitiew di ruang tanggapan atas suatu berita. Begitu ringan, bahkan seperti semacam tambahan bagi komentar bernada meledek.

 Aduh, saya tidak pernah ikut ber-prikitiew, melafalkannya saja sudah terasa sulit bagi saya.*

Limbangan Garut, 12 Mei 2011

Bahasa Awur-awuran

Wacana

Bahasa Awur-awuran

 

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas, Tinggal di Limbangan Garut

 

 

K

atakan saya kuper dan ketinggalan zaman, atau apa saja. Karena banyak bahasa yang tidak saya pahami maksudnya; bahasa percakapan maupun tulisan di kalangan masyarakat Indonesia yang kebanyakan ajaib punya. Terutama kawula muda, namun tak menisbikan yang tua juga.

Katakan bagaimana rasanya berada di dunia sunyi yang steril dan hanya mengenal bahasa dari apa yang dibaca, bukan didengar? Entah, ya. Yang jelas saya sering bingung dan merasa tak gaul ketika harus berhadapan dengan kata atau kalimat ajaib. Barangkali saya kaku, terbawa bacaan yang kebanyakan nyastra sampai bergabung di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang anggotanya kebanyakan pencinta bahasa Indonesia (yang barangkali fanatik) sejak tahun 2003.

Pengalaman belajar di milis guyubbahasa membuat wawasan saya terbuka. Kagum, heran, sadar, sampai ngeri dengan kemampuan rekan-rekan yang kebanyakan pakar dalam membahas suatu topik sampai berargumen. Namun saya menikmatnya. Sekaligus khawatir karena sepertinya kami merupakan komunitas minoritas jika dibanding masyarakat pengguna bahasa Indonesia sebangsa dan setanah air.

Saya mencintai bahasa Indonesia, sebab hanya dengan bahasa itulah saya merasa hidup dalam wewenang yang dikuasai. Namun pengalaman mengajarkan bahwa dunia luar saya yang ingar ternyata ruwet, banyak banget bahasa awur-awuran yang bikin saya terkaget-kaget.

Mungkin yang sangat sering dan susah diubah kebiasaannya dalam masyarakat adalah penggunaan kata kami dan kita yang bertukar tempat mulu. Akibatnya, saya sering merasa terganggu.

Saya pernah membahas itu dalam surat untuk seorang kawan ketika mengomentari cerpennya yang secara gramatika masih awur-awuran. Surat itu saya pajang di blog pribadi, https://rohyatisofjan.wordpress.com, ya mudah-mudahan bermanfaat bagi yang mengunjunginya. Dan saya heran karena kejadian awur-awurannya merambah sampai sudut kampung di lereng gunung. Ah, seorang gadis Madrasah Aliyah (setara SMA) kelas XII yang masih belia dan tentu saja ceria, berbakat menulis sejak 6 SD, sudah menerbitkan novelnya dan beredar di lingkungan terbatas, sekolahnya; membuat kejutan. Cara bertuturnya mengagumkan dan tak membosankan (katanya ia suka karya Rachmania Arunita), namun yang mengkhawatirkan adalah banyak sekali penggunaan bahasa yang tak sesuai kaidah kebahasaan. Seperti virus menyebar ke mana-mana, bahasa awur-awuran itu, ternyata.

Saya bingung dengan penggunaan “secara”, karena ada paragraf di awal novel itu yang dirasa janggal: “Bukan gitu Miss Mirrel, gue juga bisa pake Bahasa Inggris, pake Bahasa Jerman pun gue bisa. Tapi secara gue tinggal di Indonesia gitu loh, nimba ilmu di Indonesia juga, cari duit juga di Indonesia jadi gue musti pake bahasa sini. Ya kalo lo udah mampu dan bisa pake Bahasa Indonesia meskipun dikit, kenapa gak digunain buat bahasa ngobrol lo….? Biar lo gampang bisanya.” Mirrel menatap gue dengan sinisnya, tatapannya tatapan permusuhan, mungkinkah dia dendam sama gue? Heuh… so what, I don’t care it… never mind lah….

 

Itu karya Rafi Alawiyah Rais. Remaja berbakat yang sebenarnya kritis. Dan saya terangsang untuk membimbing dan mengkritisinya. Ya, semacam pelengkap setelah guru-guru dan orang terdekatnya yang telah mengajarkan banyak hal. Ayahnya ternyata kepala sekolah dan guru di MTs. YPI Ciwangi Limbangan yang pernah memberi kesempatan bagi saya untuk bersekolah di sana, bercampur dengan anak lain yang berpendengaran normal. Itu baru saya tahu ketika kami pertama kali bertemu dan kenalan untuk membahas karyanya, Rafi teman sekelas Ade tetangga saya.

Saya mengerti kalau Rafi hanya terbawa virus bahasa pergaulan dari medium mana saja. Yang saya khawatirkan virus tersebut tiada obat penawarnya. Telanjur menyebar dan berurat akar. Itukah cermin kehidupan bahasa kita yang sungguh sangat mengejutkan bagi seorang tunarungu macam saya yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia 6 tahun?

Dan petualangan bahasa awurnya ternyata seperti sedang tracking di karang terjal. Saya sering merasa sesak disodok kejutan yang melemotkan. Ya, saya merasa lemot atau tulalit. Mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, ini maksudnya apa? Frase “utas” di KBBI kok berbeda dengan apa yang dimaksud Rafi. Bagi saya yang terbiasa dengan maksud: kata, cetus, dan yang bersinonim dengan itu; kebingungan!

Rafi dapat kesimpulan tentang “utas” dari mana? Utas di buku Babi Ngesot Raditya Dika saja merupakan kebalikan dari “satu”. Sayang saya tak tahu jawabannya karena kala membahas itu secara langsung sambil menunjuk KBBI pada Rafi, ia tak menjelaskan penemuan diksi ajaibnya selain mengangguk malu dan agak bingung.

Sekarang saya bingung, andai bukan penyandang tunarungu apakah saya akan peduli pada betapa awurnya dunia bahasa di negeri Indonesia tercinta. Atau malah jangan-jangan termasuk kategori orang yang sama awurnya juga dan tak ambil pusing karena sudah terbiasa. Ah.

Banyak sekali contoh bahasa awur yang membuat saya serasa jungkir balik coba memahaminya. Dan itu seolah berada di dunia hiperbolik. Dunia surealis tulisan karya Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor masih asyik, namun apakah saya berada di dunia surealis juga ketika orang-orang menulis sampai bicara dalam bahasa Indonesia yang membingungkan?

Namun saya tak ingin menyerah. Biarlah berbahagia dalam dunia sunyinya, karena sunyi mengajarkan saya untuk merenung dan mengambil jarak. Betapa logika berbahasa sudah kehilangan wibawa. Barangkali hanya segelintir kecil saja yang peduli dan ingin melakukan reformasi kebahasaan dalam artian positif. Mungkin seorang Rafi bisa saya bimbing untuk masuk komunitas kecil saya, dan siapa tahu kelak ia akan bisa membimbing yang lainnya juga untuk paham dan peduli.

Apakah saya seorang yang muluk?

Dan akankah penulis sampai penerbit media mana saja memerhatikan “kerepotan” saya, bahwa banyak kaum tunarungu yang merasa terkucil dalam bahasa nasionalnya. Tidakkah lebih baik jika mereka memberi penjelasan atau semacam catatan kaki?***

Limbangan Garut, 21 September 2010

Ketika Imlek Tiba

Suatu Hari Ketika Imlek Tiba

Cerpen Rohyati Sofjan

 

T

ante Yuan adik Mama datang bertandang, kami menyambutnya dengan senang. Tante selalu tak lupa membawa oleh-oleh untuk aku dan Didit. “Hore, Tante datang!” seru Didit berlari masuk rumah untuk mengabarkan lalu kembali ke area carport, menyambut Tante Yuan.

Aku melongok ke ambang pintu, Didit adikku yang masih TK menyalami tangan Tante Yuan ke keningnya. Tante mengusap kepala Didit. Menggendongnya. Menciumi pipi Didit yang chubby.

Aku mendekati mereka. Tante Yuan tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia belum menikah. Setiap akhir pekan, jika tak sibuk, pasti akan mengunjungi rumah besar kami. Soalnya aku dan Mama tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Papa sudah lama meninggalkan kami. Mama bilang Papa kawin lagi. Aku dan Didit sedih. Namun kehadiran Tante Yuan cukup mampu menghibur kami. Ia tidak pelit berbagi.

Assalammualaikum, Tante. Bawa oleh-oleh apa?” candaku sambil menyalami tangan Tante Yuan seperti Didit. Tante Yuan tergelak. Mencubit pipiku. Lalu seperti biasa, sebagai kebiasaan, mengusap kepalaku, lebih tepatnya mengacak-acak. Aku meringis. Rambutku yang cepak dan dikasih jel agar keren pasti terasa kasar bagi tangan Tante.

“Kecil-kecil sudah bergaya keren. Mau ke mana rambut dijelian, Purwana?” bukannya menjawab pertanyaanku Tante malah meledek.

“Nanti mau ke rumah Sansan buat imlekan, siapa tahu kebagian angpau. Di sana ada barongsai.”

“Ikut!” seru Didit, ia menggelesot turun dari pangkuan Tante Yuan. “Didit boleh ikut, ya, Kak Wawa?” rajuknya.

“Gak boleh!” aku jual mahal untuk menggoda Didit. Wah, wajahnya seketika berubah antara gusar dan mau mewek. Mulutnya jebleh. Aku tertawa.

“Tentu boleh asal Didit minta izin dulu pada Mama,” lerai Tante Yuan, ia mencium gelagatku yang jail. “Tapi sebelumnya bantu Tante ngeluarin oleh-oleh dari mobil.” Tangannya langsung membuka pintu mobil Daihatsu Terrios merah mengilat. Aku dan Didit bersorak. Banyak sekali oleh-oleh Tante Yuan.

Kami berkumpul di meja makan. Takjub pada apa yang dibawa Tante Yuan. Keranjang buahnya besar dan mewah, aku yang membawanya jelas merasa berat karena isinya  tak biasa. Ada gerangan acara istimewa apa soalnya banyak sekali hidangan yang tersaji di meja, Mama dan Nenek sedari tadi telah mempersiapkannya. Plus tambahan oleh-oleh makanan dari Tante Yuan.

“Namanya Suki,” Tante Yuan sibuk menata penganan unik, ada yang digulung dan dihias isian entah apa namanya. seumur hidup aku belum pernah makan apa yang Tante Yuan sebut sebagai suki. Oh, lupa, pernah sih coba sukiyaki dari resto Hokben, namun yang ini beda. Kata Tante Yuan buatannya sendiri. Pasti yummi. Didit minta izin mengambil satu, yang berbentuk penguin.

“Enak,” kata Didit, ia meneruskan gigitannya lalu mengunyah. Aku jadi ngiler. Tante Yuan tersenyum. Ambil saja, jangan sungkan, katanya. Maka aku mengambil yang berbentuk burung. Lengan Didit sudah terjulur lagi mengambil yang berbentuk kepala Spongebob. Kami duduk dengan manis di atas meja, menyantapi aneka suki yang tersaji. Wah, banyak sekali. Ada kacamata, kakap brokoli, ayam gulung udang, sayuran, dan masih banyak lagi. Plus tambahan kuah. Kaldu ayam dan tomyam. Nyam-nyam….

Nenek dan Mama muncul dari ambang pantry, cipika-cipiki dengan Tante Yuan. Mereka girang sekali. Aku curiga sebab tidak seperti biasanya. Wajah Tante Yuan merona.

“Tante mau dilamar ya?” aku usil lagi, teringat Om Koko yang keturunan Tionghoa tapi sudah muallaf. Wajah Tante Yuan kian merona. Didit bersorak. Om Koko sangat baik pada kami.

“Nanti Om Koko dan keluarganya akan datang kemari,” Mama flirting padaku. Aku tergelak.

“Wah asyik dong! Ya, Nek. Nenek dan Kakek akan mantuan, hehe….”   

“Usil!” Tante Yuan mencubit pipiku dengan gemas. Wadaow! Nenek hanya tersenyum geli. Kakek muncul dari halaman belakang, dari tadi Kakek sibuk mengurus ikan-ikan di kolam. Ada taman berikut gazebo di rumah kami yang asri. Tante Yuan memintaku dan Didit membawa sebagian suki dalam wadah dengan penutup plastik transparan berikut kue keranjang ke gazebo. Asal tahu saja, kue keranjang itu nama lain dari dodol cina, rasanya manis legit. Berbeda teksturnya dengan dodol garut yang biasa kumakan. Dodol garut sih sepanjang hari pasti ada, kalau dodol cina unik karena cuma setahun sekali ada di pasaran. Biasanya menjelang imlek. Aku tahunya ya dari Sansan sobat sebangkuku di sekolah. Kami dua bocah keren beda etnis namun rukun dan akrab sebagai sahabat.

Sekarang di keluargaku akan ada tambahan etnis lagi. Lucu ya membayangkan mata Om Koko yang agak sipit itu jika tertawa. Akan seperti apa tampang anak-anak mereka, sepupu kami kelak? Hehe.

Aku dan Didit kembali bergabung ke ruang tengah, nimbrung dengan keluarga kami yang hangat dan periang, menyantap aneka penganan berikut irisan kue keranjang. Lalu minta izin untuk ke rumah Sansan. “Hati-hati!” pesan mereka serempak.

“Tunggu sebentar, Wawa. Tante lupa ada oleh-oleh untuk keluarga Sansan. Tante Yuan menyusul kami. Ia berjalan ke arah mobilnya, mengambil kantung kain, ada wadah besar tersembul. “Kue khusus,” Tante Yuan seolah membaca pikiranku.

Aku jadi penasaran dan ingin melongok apa isinya. Namun Tante Yuan mencegah. “Cuma blackforest kok, tapi dengan hiasan. Tante sudah bikin dua. Ada lagi satunya,” Tante Yuan mengambil bungkusan lain yang serupa, menunjukkannya pada kami dengan gaya menggoda. “Ayo cepat sana, gih!” tawanya berderai. Didit dan aku sudah ngiler membayangkan kue bolu cokelat yang legit itu. Namun perut kami sudah kenyang menyantap suki plus irisan kue keranjang.

Di rumah Sansan sudah ramai dengan banyak orang. Sansan menyambut kami dengan hangat. Didit bertanya barongsainya mana. Kata Sansan sebentar lagi. Aku memberikan bungkusan dari Tante Yuan. Sansan senang sekali. Hari ini perutku akan sangat kekenyangan, candanya, ketika kuberitahu apa isinya. Ia mengajak kami menemui keluarganya.

Gong xi fa cai. Seruku sambil mengepal-ngepalkan kedua tangan pada keluarga besar Sansan yang disambut mereka dengan cara serupa. Didit ikut meniru gerakan lenganku dengan kaku, maklum ia tak terbiasa. Sansan menunjukkan bingkisan dari keluargaku pada mamanya. Tante Susan senang sekali menerimanya. Kami sama-sama takjub pada bentuk blackforest buatan Tante Yuan, ada hiasan naganya loh, dari cokelat dan diberi pewarna makanan merah. Oh, Tante Yuan kan chef di hotel bintang lima jadi jago mengolah makanan apa saja. Tak heran Didit lebih gendut dikit daripadaku, hehe. Ia pencinta berat masakan Tante Yuan.

Opa Sansan mendekati kami, ia menyelipkan sesuatu ke tangan kami. “Angpau untuk anak-anak yang baik!” Didit girang sekali. Aku sih masih jaim padahal senangnya bukan main, hehe. Kami sama-sama mengucapkan terima kasih. Sansan mengajak kami makan yang ditolak kami dengan alasan sudah kenyang. Kami lalu mengobrol banyak tentang Imlek yang kata Papa Sansan merupakan tradisi asli dari negeri leluhurnya, nun di Cina sana. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (zhêng yuè) penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh saat bulan purnama. Malam tahun baru Imlek dikenal sebagai Chŭxĩ yang berarti malam pergantian tahun baru.

Wah, pusing juga karena tak biasa ya? Untung Papa Sansan baik. Katanya bisa dicari di google kalau berminat menelusurinya, hehe.

Di luar terdengar suara ribut-ribut. Didit yang sedari tadi gelisah menunggu barongsai langsung melonjak senang.

“Mari  kita keluar,” ajak Papa Sansan. Bersama kami beriringan menonton atraksi barongsai yang sebentar lagi akan dimulai. Semua keluarga besar Sansan berkumpul di rumah ini karena Papa Sansan merupakan anak sulung dan Opa-Omanya tinggal serumah. Sesuai tradisi, yang muda mengunjungi yang lebih tua. Sama seperti tradisi lebaran kami, ada bedug namun tak ada barongsai, hehe. Sungguh, hari begitu cerah bagi kami. Suara tambur bertalu-talu, diiringi rentetan petasan. Wah, ramai sekali! apalagi naga barongsainya mulai meliuk. Aku menepuk bahu Sansan hangat.***

Limbangan, Garut, 30 januari 2012